10 Kesalahan Orang Tua Mendidik Anak

10 Kesalahan Orang Tua Mendidik Anak

Sebagai orang tua, Pernahkah anda melakukan kesalahan terhadap anak sendiri?

Rata-rata orang tua yang baik melakukan sepuluh kesalahan tiap hari dalam mendidik anaknya.

Diantaranya, banyak orang tua tak memberi kesempatan kepada anaknya untuk bertanggung jawab membersihkan rumah misalnya. Karena, kebanyakan orang tua ingin melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk anaknya. Biarlah anak-anaknya mengerjakan pekerjaan sekolahnya saja.

Kesalahan lainya yang juga sering dilakukan orang tua adalah tidak memberlakukan anak sama seperti orang disekitar tempat kerja. Terhadap teman sekerja diberikan respek lebih besar ketimbang anak sendiri. Perhatian kepada anak hanya sekedarnya saja.

Tak sedikit orang tua yang baru menyadari kesalahannya itu setelah sekian puluh tahun kejadian berlalu. Bahkan ada orang tua yang menyadarinya setelah anaknya berumur 32 tahun, tatkala anaknya “menggugat” orang tuanya yang menghentiduakan.

Tak sedikit pula orang tua yang berkata, “Saya tak pernah di didik untuk menjadi orang tua yang baik. Karena itu sangat mungkin saya membuat kesalahan.

Dalam mendidik anak ada kalanya, kalau memang benar-benar tidak mengetahui harus berbuat apa, ada baiknya bertanya kepada yang tahu, konselor misalnya. Kepada konselor, banyak yang tepat guna mengurangi kekeliruan.

 

 

Di negara-negara Barat, peran konselor dalam membantu orang tua untuk mendidik anak, sudah sangat menonjol.Tapi di Indonesia para konselor baru mulai memperlihatkan perannya,namun tak ada salahnya orang tua memanfaatkan jasa mereka.

Lewat mereka, yang saat ini umumnyaberada dikota, jalan keluar permasalahan dalam mendidik anak bisa ditemukan. Dengan demikian, orang tua bisa saja mengeliminir diri dalam melekukan kesalahan yang berulang kali dalam diri anak.

Dari berbagai pengalama menunjukkan bahwa seorang anak mempunyai kecenderungan memberi maaf persoalan bisa lebih transparan, membuang prasangka jelek dalam diri anak.

Meminta maaf kepada anak atas kesalahan yang diklakukan kepada mereka, sebenarnya memberikan dampak positif ganda. Selain dapat mendidik anak untuk bisa bersikap jujur dan sportif, orang tua juga bisa belajar tetap berbuat jujur.

Perasaan sayang dan marah itu, bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Marah, bisa jadi merupakan bagian dari perasaan menyayangi, seperti ungkapan lama juga “ sayang dengan anak dilecuti, sayang dengan kampung ditinggalkan”,

Menghadapi orang yang sedang marah, harus diakui bahwa itu bukan pekerjaan mudah, kepada kita selalui ditanamkan bahwa emosi-emosi negatif  memiliki perasaan negatif dengan mengatakan, “Ndak apa-apa kok, tidak perlu kecewa karena dirimu memang demikian adanya”.

Padahal dengan memahami perasaan negatif anak, berarti orang tua sekaligus meyakinkan anak bahwa perasaan seperti itu normal.Jadi orang tua tak harus pula memahami anak yang punya perasaan negatif demikian itu.

Orangtua memang dituntut untuk menyadari begitu banyak hal yang membuat rasa jengkel merasa tidak aman, serta merasa bersalah.

Karena itu, ada baiknya kita menumbuhkan kesadaran bahwa menjadi orangtua sebenarnya adalah sesuatu yang amat menyenangkan dalam kehidupan ini.

Menyadari bahwa menjadi orangtua itu adalah sesuatu yang indah dan menyenangkan, agaknya kita tak harus frustasi dalam mendidik anak, tak harus stress melihat anak yang uring-uringan. Tingkah laku demikian, memang dunianya anak.

Kesalahan-kesalahan kecil adalah seni dalam mrndidik anak karenanya orangtua tak harus malu dan segan untuk minta maaf atas kesalahan yang dilakukan kepada anak. Kalau orangtua belum bersedia minta maaf kepada anaknya, agaknya kurang bijaksana untuk menuntut berbuat serupa kepada kita orangtuanya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *