Bina dan Fasilitasi Korban KDRT

Bina dan Fasilitasi Korban KDRT

Upaya BPPKB Berdayakan Kaum Perempuan

BLITAR – Hak hidup layak kaum wanita, menjadi fokus Pemkab Blitar dalam rangka memberdayakan kaum perempuan. Melalui Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB), Pemkab Blitar getol melakukan berbagai pembinaan dan fasilitasi bagi para wanita. Terutama bagi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pelecehan seksual.

Kepala BPPKB Kabupaten Blitar Wahid Rosidi, melalui Kabid Pemberdayaan Perempuan Uliep Sumaryati mengungkapkan, sepanjang 2012 lalu, terdapat belasan kasus KDRT dan kekerasan seksual yang sudah ditangani. Yaitu, lima kasus KDRT, empat kasus kekerasan terhadap anak, 14 kasus kekerasan seksual terhadap anak, dan satu kasus pelecehan seksual terhadap anak. Tahun ini, sudah ada dua kasus KDRT yang ditangani. “Layanan yang kami berikan mencakup berbagai hal, mulai konsultasi dan pengaduan, proses mediasi, pendampingan ke meja hukum, hingga pemberian bantuan langsung berupa sembako,” ungkapnya.

Terhadap dua kasus KDRT yang muncul belakangan tersebut, Uliep menjelaskan, pihaknya telah melakukan berbagai langkah bagi korban. Yaitu, menindaklanjuti laporan korban dengan turun langsung ke lapangan, mediasi dengan suami, dan lain-lain. “Intinya kami mengikuti alur korban. Kalau ingin  bantuan hukum dan melangkah ke meja hukum, kami akan fasilitasi,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya juga terus melakukan monitoring dan motivasi terhadap para korban kasus tersebut secara berkala. Meski demikian, pihaknya tetap mengedapankan proses mediasi, supaya keberlangsungan kehidupan rumah tangga dapat terselamatkan. “Sesuai tupoksi, kami titikberatkan supaya kedua belah pihak bisa rujuk dan tidak cerai,” jelasnya.

BPPKB juga membuka pintu lebar bagi siapa saja kaum perempuan yang menjadi korban kekerasan maupun pelecehan seksual. Bahkan, BPPKB berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) juga menyediakan “rumah aman” bagi para perempuan yang tidak berani pulang karena kekerasan suami. Kedepan, juga akan dibentuk tempat konseling khusus bagi wanita korban kekerasan, sehingga dapat leluasa mengeluarkan isi hatinya. “Harapannya, pemberdayaan dan pelayanan terhadap perempuan semakin efektif dan lebih bermutu,” tegas dia. (c3/ris)

sumber : di Jawa Pos Radar Blitar,30 Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *