“Generasi Berencana Harus Jadi Gaya Hidup”

“Generasi Berencana Harus Jadi Gaya Hidup”

Jumlah penduduk Indonesia kian hari bertambah. Dengan jumlah kelahiran mencapai empat juta per tahun, Indonesia diperkirakan akan menghadapi masalah pelik di bidang kependudukan. Kecuali, bila Indonesia mampu mengendalikan pertumbuhan penduduknya dengan berbagai kebijakan.

 

Penduduk yang berkualitas akan menjadi modal pembangunan yang mendongkrak kesejahteraan. Tapi bisa juga terjadi sebaliknya, kualitas penduduk yang rendah akan menjadi beban bagi pembangunan dan kesejahteraan di masa datang.

 

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sugiri Syarief, belum lama ini berkesempatan berbincang bersama Vivanews.com seputar program Kependudukan dan Keluarga Berencana di Indonesia. Berikut petikannya:

 

Apa tantangan kependudukan Indonesia ke depan?

Tantangan kita masih besar. Anak-anak harus dibekali supaya sehat dan berkembang optimal, serta mendapat pendidikan setinggi-tingginya. Tentu hal-hal tersebut membutuhkan investasi yang besar, baik dari pemerintah maupun masyarakat.

Selain itu, jumlah remajanya masih tinggi, sekitar 64 juta. Tak heran bila jumlah pernikahannya juga melaju. Ini akan menjadi problem jika pengetahuan mereka mengenai Keluarga Berencana tidak ada, melahirkan tanpa bimbingan, tanpa memikirkan kesehatan mereka, atau mengerti bahwa ini dapat memengaruhi angka pertambahan penduduk.

Persoalan penduduk adalah persoalan negara yang harus kita hadapi, karena ada hubungannya dengan kebutuhan pangan, energi, BBM, dan lain-lain.

Lalu, penduduk lansia semakin meningkat pesat. Sekarang jumlahnya kurang lebih 20 juta. Tahun 2050, angkanya bisa mencapai 60-70 juta, dan itu berpengaruh kepada sektor ekonomi. Kalau dahulu kita banyak membuat diapers untuk anak-anak, sekarang untuk orang-orang lanjut usia. Tak hanya itu, dokter anak-anak dulu laku, nanti dokter untuk orang renta makin banyak.

 

Apa saja aspek pendudukan yang krusial di Indonesia?

Pertama, berkenaan dengan kuantitas penduduk. Angka penduduk kita berdasar survei  sebesar 234 juta, berdasar survei 2010 sebesar 238 juta. Yang bertambah dalam permasalahan ini adalah jumlah penduduk yang besar disertai angka kelahiran yang tinggi dan penduduk berumur muda.

Kedua, berkaitan dengan kualitas penduduk seperti angka kematian tinggi dan pendidikan rendah. Ketiga, adalah persebaran penduduk antar wilayah yang sangat timpang, baik antarpulau maupun antarperkotaan dan pedesaan.

 

Angka kematian ibu masih tinggi? Bisakah mencapai target MDG’s?

Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi, sebanyak 228 per 100.000. Berarti setiap satu jam dua ibu melahirkan meninggal dunia. Ini sudah lebih baik daripada tahun 1970-an sebesar 960 per 100.000.

Tapi target Millenium Development Goals (MDG’s) sebesar 102 per 100.000 yang seharusnya dicapai 2015 takkan tercapai.  Target ini baru bisa kita capai 2020.

Karena itulah, kesehatan ibu dalam memasuki kehamilan harus betul-betul prima, atau tidak dalam kondisi lemah. Ibunya tidak boleh tidak siap, seperti terkena anemia atau cepat panik saat pendarahan. Ada juga kasus lain. Misalnya, pemulihan dari melahirkan belum selesai si ibu sudah hamil lagi.
Untuk menurunkan risiko kematian itu, perhatikan jangka waktu yang baik bagi para wanita untuk hamil lagi, yaitu sekitar tiga sampai lima tahun. Dan bila BKKBN menyampaikan pesan bahwa anak-anak harus sekolah. Itu ada alasannya. Karena jika mereka sekolah, mereka nanti tidak menikah, kalau tidak menikah ya tidak melahirkan anak. Oleh sebab itu, kita sangat peduli dengan pendidikan.

 

Dahulu program KB sangat aktif, mengapa sekarang terlihat pasif?

Kondisi yang tidak aktif itu terjadi selama 2000-2007. Memang benar ada hubungan dengan desentralisasi. Waktu itu, tak ada kewajiban pemerintah daerah menjalankan program Keluarga Berencana. Mereka tidak salah, karena memang tak ada aturan. Para pelaksana KB di daerah juga berkurang drastis karena ditarik kota/kabupaten.  Di sisi lain, aspek medis desentralisasi juga tak terurus.

Sejak 2007, program KB mulai ditata lagi. Titik berat kali ini adalah pelayanan momentum yang kini berjalan baik, walaupun tak seoptimal sebelumnya.  Kami kini bergerak dengan mobile clinic. Melihat  kelumpuhan yang terjadi saat itu, jika kita tidak  melakukan pelayanan momentum maka targetnya nanti  tidak akan tercapai. Pelayanan reguler pun kita tata ulang lagi, seperti adanya puskesmas.

Anggarannya mencukupi?

Kini, anggaran kita sudah jauh lebih baik.  Contohnya, tahun 2006 anggaran kita hanya Rp700 miliar, sekarang sudah Rp2,5 triliun meski kita butuhnya sekitar Rp4 triliun. Sementara itu, anggaran kampanye sebesar Rp150 miliar, dan itu baru dimulai pada tahun 2010.

 

Istilah KB terkesan kuno. Bagaimana menurut Anda? 

Betul sekali. Jika anak-anak muda mendengar nama KB, mereka kerap bilang, “Ah, itu buat babe gue.”  Oleh sebabnya, kami mengubahnya dengan menciptakan GenRe  (Generasi Berencana) dan mencanangkannya ke sekolah-sekolah dan tempat lain.

Dalam acara-acara  yang kami buat, kami juga membawa pentas komedi lawak untuk anak muda agar lebih menarik perhatian. Pesan-pesan kependudukan dan Keluarga Berencana disisipkan dalam bentuk candaan yang menghibur. 

Seperti yang kita tahu, media seni termasuk komedi banyak digemari, jadi informasi melalui humor akan lebih mudah dipahami. Kami pun sempat mengundang tokoh-tokoh seperti Effendi Gazali.

 

Daerah mana yang sukses dan paling tertinggal dalam program  KB?

Yang paling sukses itu di Yogyakarta. Setiap wanita di sana memiliki anak sebanyak 1,8 jauh lebih rendah daripada rata-rata nasional yang 2,6. Salah satu penyebabnya, Yogyakarta itu daerah patriarki, kesultanan. Apapun yang menjadi perintah Sultan akan dilaksanakan warganya. Selain itu, Yogyakarta juga daerah mahasiswa. Daerah yang sukses lainnya adalah Bali, DKI dan Jawa Timur.

Sementara, daerah dengan tingkat kelahiran tertinggi ada di Nusa Tenggara Timur sebesar 3,67. Ini pun sebenarnya sudah turun dari angka 4,2 . Alasannya karena agama, dan kemiskinan. Kebanyakan dari mereka tak sekolah sehingga tak heran, angka pernikahannya tinggi.

 

Jampersal (Jaminan  Persalinan) diarahkan agar membatasi kelahiran. Program itu berjalan efektif?
Tahun 2012 ini, peserta Jampersal harus ikut KB.  Kembali lagi ke awal, kami ingin menekan laju kelahiran karena semakin banyak anaknya, risiko  kematian ibu semakin tinggi. Dan kami juga ingin  menurunkan angka kematian ibu dari 228 per 100.000  kelahiran hidup menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup. Mulai tahun lalu sudah ada Jampersal yang menjamin biaya persalinan dan KB untuk setiap ibu melahirkan di Puskesmas atau di kelas 3 untuk rumah sakit pemerintah. 

Perlu diketahui, Jampersal bukan untuk pasangan yang  ingin mempunyai anak terus, namun hanya akan dibiayai sampai anak kedua.

Makanya, jenis kontrsepsi yang diberikan juga kontrasepsi jangka panjang seperti IUD. Target Kementrian Kesehatan, persalinan yang melalui akses Jampersal 70 persen ikut menjadi peserta KB dan 50 persen diantaranya menggunakan KB jangka panjang.

 

Tren seks bebas di kalangan remaja meningkat pesat,  termasuk kelahiran di usia muda. Apa fokus BKKBN di kalangan remaja?

Tren seks bebas di kalangan remaja memang meningkat pesat. Ada tiga hal yang sangat rentan terjadi pada remaja yaitu narkoba, HIV/AIDS, dan seks bebas.

Pendekatan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dilakukan karena usia remaja terjadi perubahan lingkungan hidup seperti pertemanan, gaya hidup yang makin liberal, hubungan keluarga yang kian renggang hingga pola hidup yang makin sendiri-sendiri.

Ada data memprihatinkan, perilaku seks tidak sehat di kalangan remaja cenderung meningkat. Ada satu penelitian pada usia 15-19 tahun yang mengaku pernah melakukan hubungan seksual. Remaja perempuan sebesar 1 persen sedangkan remaja laki-laki 6 persen. Tapi, kalau ditelusuri lebih lanjut, 26 persen remaja mengaku mengetahui bahwa teman mereka terlibat dalam hubungan seks bebas.

Untuk remaja, pendekatan yang digunakan berbeda. Bukan kontrasepsi untuk menekan kelahiran, tapi untuk melindungi kesehatan. GenRe juga dalam berbagai kampanye menekankan bahwa merencanakan pendidikan, keluarga dan kesehatan akan lebih bermanfaat bagi mereka ketimbang harus menikah dalam usia muda. Kami ingin menjadikan GenRe sebagai sebuah gaya hidup, bukan sebagai kewajiban untuk menekan angka kelahiran.

 

Bagaimana perkembangan KB untuk pria?

KB untuk pria ini menjadi salah satu perhatian kami, karena jarang sekali pria yang sadar alat kontrasepsi. Angka pemakainya masih rendah, sekitar 1,6 persen, pengguna KB wanita 98,4 persen.

Alasannya, pertama, pilihan alat kontrasepsi untuk  pria masih sedikit, yaitu vasektomi dan kondom.  Kedua, secara budaya kita masih berpikir KB itu  urusan perempuan.

Stigma yang lengket di otak pria juga berpengaruh,  misalnya banyak yang tidak ingin memakai kondom karena bagi mereka memakai kondom itu tidak enak.  Ada juga yang takut vasektomi karena tidak mau kena impotensi.

Ada pula ketakutan dari pihak si istri. Kebanyakan dari mereka tidak menyarankan suaminya ikut KB  karena takut jika suaminya selingkuh. Mereka  pasti berpikir, “Lebih baik saya yang ikut KB daripada suami saya berselingkuh.”

Sekarang ini, angka untuk pria yang ikut KB  meningkat menjadi empat kali. Dulu sekali, naik 1 persen saja sudah senang.

Kampanye untuk kondom pun terhambat oleh budaya. Sebab, orang pikir kita  mendorong hubungan seks bebas. Kampanye yang dilakukan di mal, misalnya membagi-bagikan kondom, baru dua hari langsung diprotes. Untuk itu, pendekatannya adalah untuk kesehatan bukan pengendalian penduduk. Kami bekerjasama dengan lembaga agama untuk mensosialisasikan penggunaan KB lainnya yang sesuai dengan keyakinan.

Sumber: http://us.analisis.news.viva.co.id/news/read/321362–generasi-berencana-harus-jadi-gaya-hidup-

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *