Kabupaten Situbondo , Peraih Kategori Unik Otonomi Award 2011

Kabupaten Situbondo , Peraih Kategori Unik Otonomi Award 2011

Mendengar Program KB pria, mungkin sebagian besar orang tergelitik dan menganggap tak lazim. Meski telah lama menjadi salah satu metode KB dengan istilah steril pria atau medis operasi pria (MOP) , hal itu tetap dianggap tidak biasa. Pemkab Situbondo memang bukan satu satunya daerah yang menerapkan program tersebut. Situbondo justru berhasil mengangkat program yang tidak biasa tersebut menjadi luar biasa. Prestasi tersebut terlihat dari peningkatan fantastis angka akseptor KB pria dalam tiga tahun terakhir, yakni mencapai 3.424 orang. Bahkan program KB pria saat ini menjadi tren di Kabupaten Situbondo.

Sejak 2009 , antusisasme warga yang mengikuti program itu selalu overtarget. Target 2009 sebanyak 130 orang tercapai 248 akseptor (191) persen. Untuk target 2011 sebanyak 1500 orang per Mei sudah tercapai 1465 orang (97) persen. Untuk 2010 keberhasilan KB Pria di Kabupaten Situbondo merupakan pencapaian tertinggi se-Indonesia. Akumilasi progress 2010 mencapai 1552 akseptor atau 428 persen dari target. Bahkan pada 2010 pula diraih penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk layanan KB Pria (vasektomi), yakni 290 akseptor yang dilayani selama 2 hari. Kesuksesan pada tahun 2011 masih ditunggu hingga tutup tahun.

Melihat capaian tahun sebelumnya dan progress tahun berjalan, tampaknya terulang kesuksesan pada 2011 sudah di depan mata. Apalagi rekor MURI dipecahkan pada Jum’at , 13 Mei 2011. Dalam dua hari, 340 pria mendapat layanan KB Medis Operasi Pria (MOP) atau Vasektomi di Pendopo Kabupaten Situbondo. Dalam rekor MURI itu, Pangdam V/Brawijaya, Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur, dan BKKBN Pusat menjadi inisiator yang mengapresiasi kesuksesan Kabupaten Situbondo selama ini. Padahal dalam dua belas tahun sebelumnya, 1988 hingga 2009, jumlah akseptor KB Priahanya mencapai 248 orang. Ketidaksuksesan program sebelumnya yang juga dialami oleh daerah lain desebabkan adanya dua hal, yaitu persepsi dan kendala teknis, jumlah dokter yang menangani MOP memang terbilang kurang.

Sebetulnya , kendala terbesar adalah persepsi publik yang keliru. Diantaranya , informasi menyesatkan bahwa KB pria membahayakan. Sebagian besar masyarakat juga beranggapan bahwa KB hanyalah urusan perempuan. Ditambah , ada sebagian ulama yang mengharamkan program KB. Padahal pro-kontra program KB antar ulama sebenarnya hanya merupakan perbedaan sudut pandang. Mereka yang mengharamkan berpikir, setelah melakukan MOP keluarga tidak bisa puny anak lagi, padahal itu tidak benar. Jika ingin punya anak lagi, MOP bisa dilepas. Isu tersebut menjadi pembahasanbhatsul masail pada forum Mudzakaroh Ma’al Ikhwan yang bertepatan dengan haul Al-Marhumain KHR As’ad Syamsul Arifin. Bhatsul Masail yang diikuti para kiai se-Jawa Timur serta ahli ahli fikih Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo itu menghasilkan keputusan yang membolehkan KB MOP untuk Pria. Hal itu juga memperkuat keputusan MUI kab.Situbondo.

Berangkat dari pemecahan masalah itu,strategi percepatan program dilakukan. Bupati membuat surat edaran kepada setiap camat dengan menetapkan target 50 akseptor vasektomi tiap kecamatan. DPRD juga mendukung penganggaran fasilitas program seperti gedung baru penunjang program KB. Bahkan muspida, muspika hingga danramil turut mensosialisasikan program KB tersebut.

Bonus Sarung dan Celana Dalam

Salah satu terobosan inovasi kabupaten Situbondo yang menarik adalah kiat kiatnya dalam memotivasi gerakan KB Pria. Selain mengoptimalkan sarana dan prasarana sosialisasi seperti Mobil unit Penerangan (MUPEN), mobil dinas, CD KIE vasektomi, pemda memiliki kiat unik. Salah satunya, layanan antar jemput ke tempat pelayanan vasektomi. Selain itu, peserta vasektomi mendapat makan dan kompensasi sebesar Rp.100.000 serta bonus sarung dan celana dalam.

Menurut Kepala Kantor KB Pemkab Situbondo, Syaifullah, pemberian uang itu sebenarnya tidak mengiming-imingi akseptor agar ikut KB MOP. Setelah operasi, akseptor KB Pria harus beristirahat total beberapa hari. Uang itu bisa digunakan untuk mengganti biaya hidup peserta MOP selama tidak bisa mencari nafkah.

Selain komitmen Pemda, kuci kesuksesan program KB Pria adalah sosialisasi oleh akseptor KB yang sudah ikut program. Melalui mereka, KB bisa menjadi tren. Bahkan masyarakat mau ikut KB Pria dengan biaya sendiri, terutama dari kalangan menegah keatas. Bersamaan dengan tren KB Pria, saat ini mulai tumbuh kesadaran bahwa Pria ber-KB merupakan wujud kecintaan kepada istri. Para akseptor KB MOP mengakui adanya peningkatan vitalitas pria dalam menjalankan kewajibannya sebagai suami. Akibatnya bisa ditebak, hubungan suami istri semakin haromonis.

(Jawa Pos, 6 Desember 2011)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *