Lim Sie Yung dan Im Han Pun Ikut Vasektomi

Lim Sie Yung dan Im Han Pun Ikut Vasektomi

Setelah Situbondo mengukir prestasi dengan pencapaian rekor MURI  vasektomi dua tahun berturut-turut, tren keikutsertaan pria untuk KB lanang kian meningkat. Tak saja di Situbondo, di Surabaya juga banyak bapak-bapak yang berminat untuk menjadi akseptor vasektomi. Karena selain praktis juga ternyata mudah dilakukan dan tidak sakit.
“Di Surabaya pada tahun 2010 dari PPM 31 orang dapat tercapai lebih dari dua kali lipatnya, dan sekarang PPM kita 83 orang, dalam jangka  satu setengah bulan sudah tercapai 63 orang, dalam waktu dekat ini kita juga akan mengadakan pelayanan MOP” ujar Junianto, SH. Kasubid KB Bapemas-KB Surabaya, pendamping para akseptor.
Menurut Junianto, vasektomi mulai menjadi tren,  jadi pilihan asalnya dari “gethok tular”. Kini orang tahu, tindakan vasektomi ternyata sangat mudah, tidak sakit, bukan merupakan operasi, tidak mengurangi kualitas secara seksual atau kekuatan seseorang, tidak berbekas, habis vasektomi langsung bisa beraktivitas lagi hanya tidak boleh mengangkat beban berat selama tiga hari.  “Apalagi vasektomi sekarang dilakukan secara gratis, masih ditambah uang saku lagi.” Imbuh Junianto.
Tak heran, ketika Bapemas KB Surabaya membuka pelayanan vasektomi banyak bapak-bapak yang mendaftarkan diri.   Seperti ketika tanggal 15 Februari  2012 lalu diadakan pelayanan di kantor Perwakilan BKKBN Jatim, 19 orang langsung mendaftar, dua diantaranya  etnis Tinghoa.
“Tidak kali ini saja etnis Tionghoa yang ikut vasektomi, kemarin sudah ada dua, dan masih ada lagi  yang sudah mendaftar tapi belum bisa dilayani” ujar Erna Juniati, SE  Koordinator PLKB Kecamatan Mulyorejo yang ikut mendampingi pelayanan.
“Saya sebetulnya sudah lama kepingin ikut vasektomi, tapi maju mundur, takut kalau mengakibatkan impotensi. Ternyata vasektomi mudah dilakukan dan tidak sakit, serta jauh dari hal yang menyebabkan impotensi”  aku Im Han alias Johan (46) sehabis mengikuti vasektomi. Menurut suami Hani (43) ini sebaiknya pria saja yang ikut vasektomi, daripada istri yang harus tubektomi. Karena tindakan vasektomi jauh lebih aman dan mudah daripada  tubektomi.
“Vasektomi sangat praktis, aman  dan akan banyak menghemat biaya dari pada misalnya harus minum pil, suntik  atau pasang spiral yang dilakukan  secara rutin” imbuh bapak dari dua anak yang bertempat tinggal di Kenjeran tersebut.
“Kalau saya, semakin yakin untuk ikut vasektomi setelah membaca dari internet dan media massa,” ujar Liem Sie Yung  alias David Andreas (47) dari Mulyorejo yang juga baru saja mengikuti vasektomi. “Saya ini ibaratnya pioner  atau kelinci percobaan, sebab banyak teman-teman lain yang juga menunggu mau vasektomi, setelah mendapat ceritera dari saya, lihat, nanti akan banyak yang daftar vasektomi” imbuh bapak tiga anak ini. Menurut David, sekarang tidak jamannya punya anak banyak, karena biaya hidup semakin mahal, apalagi biaya pendidikan mencekik leher. Itulah salah satu alasan David ikut vasektomi.
Saran David, untuk pelayanan vasektomi di kantor Perwakilan BKKBN Jatim sebaiknya ruang tunggu akseptor dibuat sedemikian rupa sehingga akseptor lebih krasan dan tidak tegang. Ruang yang nyaman, dengan kursi empuk atau televisi, sehingga bisa mengalihkan ketegangan akseptor saat menunggu giliran  vasektomi. (AT/Humas).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *