Memahami Alasan Anak Suka Berbohong

Memahami Alasan Anak Suka Berbohong

Orangtua pasti menginginkan anaknya selalu berkata jujur. Karena kejujuran merupakan salah satu karakter baik yang harus dimiliki oleh semua orang termasuk anak-anak. Dengan membiasakan diri untuk selalu berbuat jujur sejak dini, maka nantinya karakter baik ini akan terus terbawa hingga si anak beranjak dewasa.

Tapi pendidikan anak yang jujur tidak semudah yang diharapkan, karena ada beberapa faktor yang membuat anak berbohong. Childparenting menyebutkan, ada tiga hal yang membuat anak berbohong pada orangtuanya, yaitu:

1. Berbohong sebagai fantasi.
Ini biasa terjadi pada anak-anak yang masih sangat muda, anak-anak ini sangat mudah terpengaruh dengan apa yang dilihat dan didengarnya sehingga terkadang anak belum bisa membedakan mana yang kenyataan dan mana yang hanya imajinasi.

Bermain dengan cerita fantasi sebenarnya bukanlah suatu hal yang salah, tapi sebaiknya orangtua memberitahukan anak bahwa semua itu hanya ‘pura-pura’ atau tidak nyata. ‘Bu aku tadi bisa terbang seperti superman,” begitu contoh anak yang berbohong sebagai fantasi.

2. Berbohong untuk mengalihkan kesalahan.
Hampir semua anak pada titik tertentu mencoba untuk mengalihkan kesalahannya dengan berbohong. Anak yang lebih muda biasanya berbohong dengan menggunakan imajinasi yang buruk, sedangkan anak yang lebih tua lebih jago dalam hal mengarang cerita untuk menutupi kesalahnnya dan menghindari hukuman.

Emosi yang bekerja disini adalah rasa bersalah, kecemasan dan ketakutan. ‘Itu kan pecahnya gara-gara kucing, jadi keramiknya hancur,” jawab anak yang ngeles untuk menutupi kesalahanya.

3. Dorongan untuk berbohong.
Anak yang sering berbohong lama kelamaan bisa menjadi kebiasaan buruk, sehingga dibutuhkan penanganan yang lebih serius. Kebanyakan orangtua mulai belajar untuk mengenali sinyal-sinyal non-verbal yang ditunjukkan saat anak tersebut berbohong. “Bu aku pergi ke rumah Alex ada belajar kelompok,” katanya padahal tujuannya ingin main.

PENDEKATAN TERBAIK

Jika anak sering melakukan kebohongan, maka pendekatan yang terbaik adalah memberikan pengertian bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang baik untuk dilakukan. Penjelasan secara lembut dan kata-kata positif yang diberikan akan membuat anak lebih mengerti bahwa hal yang dilakukannya adalah salah.

Namun, anak tetap harus diberikan konsekuensi atas kebohongan yang dilakukannya. Orangtua bisa memberikan konsekuensi yang sesuai dengan tingkat kebohongan yang dilakukan si anak.

Satu hal yang pasti jangan memarahi anak dengan suara yang keras atau berteriak ketika anak berbohong dan pastikan anak tahu bahwa berbohong bukanlah pilihan terbaik.

Sumber: Voice of Al-Islam
(http://www.voa-islam.com/muslimah/pendidikan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *