Menciptakan Anak Berkualitas melalui Pemberian Gizi dan Pendidikan Anak Usia Dini yang Tepat

Menciptakan Anak Berkualitas melalui Pemberian Gizi dan Pendidikan Anak Usia Dini yang Tepat

BKKBN, Jakarta, 11 Oktober 2013 – Anak-anak adalah awal mata rantai manusia yang menentukan masa depan suatu bangsa. Agar mereka dapat menjadi generasi yang berkualitas di masa depan, anak-anak membutuhkan kasih sayang dan stimulasi yang cukup serta pelayanan pendidikan, kesehatan, dan ketersediaan energi pangan untuk ketahanan gizi yang baik.

Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah anak usia di bawah lima tahun mencapai 22,7 juta jiwa atau 9,54% dari penduduk Indonesia. Artinya 1 dari setiap 10 penduduk Indonesia adalah balita. Sebanyak 18 juta di antaranya berusia di bawah tiga tahun (batita). Hal ini memerlukan perhatian yang serius dari seluruh sektor dan lapisan masyarakat. Demikian yang disampaikan oleh Kepala BKKBN Prof. dr. Fasli Jalal, PhD, SpGK saat memberikan keynote speech dan membuka Konferensi Tahunan Pendidikan Anak Usia Dini ke-5 Sekolah Al-Falah di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, hari ini (11/10).

Konferensi ini adalah lanjutan dari konferensi tahunan PAUD yang diadakan oleh Sekolah Al-Falah, Jakarta untuk menyebarluaskan metode Beyond Center and Circle Time (BCCT) melalui pelatihan, menjaga program tersebut dilaksanakan secara benar dan konsisten, serta mengembangkan program tersebut lebih lanjut. Konferensi dilaksanakan setiap tahun dengan tema yang bervariasi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang PAUD.

Konferensi Tahunan PAUD ke-5 Sekolah Al-Falah akan berlangsung sampai dengan 13 Oktober. Konferensi dibagi ke dalam dua sesi seminar. Yang pertama, Seminar Satu Hari dengan tema Pengalaman Belajar yang Bermakna untuk Anak Usia Dini: Dasar Implementasi Program. Yang kedua, Seminar Dua Hari bertema Memahami Anak Usia Dini: Dari Lahir sampai Tiga Tahun. Konferensi menghadirkan Pamela Phelps, PhD dan Laura Stannard, PhD sebagai pembicara utama.

Diikuti oleh orang tua, guru-guru PAUD, para praktisi pendidikan lainnya, penyelenggara lembaga/yayasan pendidikan swasta, dan instansi pemerintah yang terkait, konferensi ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang bermakna bagi anak usia dini dan pentingnya perkembangan dari lahir sampai tiga tahun dalam hidup setiap anak. Program ini disusun berdasarkan pada mekanisme kerja otak, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan bermakna bagi anak-anak.  Memberikan ilmu pengetahuan tentang pendidikan anak usia dini kepada peserta sehingga mampu mengaplikasikannya dalam ruang lingkup mereka masing-masing di setiap pertemuan dengan anak serta menyosialisasikan program pendidikan usia dini yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan anak disertai dengan pendampingan belajar anak (melalui bermain) sehingga anak dapat belajar dengan bermakna.

Metoda Beyond Center and Circle Time (BCCT) dikembangkan oleh Pamela Phelps, pendiri dan pemilik Creative Preschool, Tallahasse, Florida, Amerika Serikat. Metoda yang telah didapatkan hak ciptanya dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Lebih Jauh tentang Sentra dan Saat Lingkaran atau dikenal juga dengan istilah “Sistem Sentra” pertama kali diadopsi di Indonesia oleh Sekolah Al-Falah, Jakarta. Sekolah Al-Falah didirikan di Jakarta pada tahun 1996 setelah terlebih dahulu melakukan studi banding ke Australia, Eropa, dan Amerika Serikat secara mandiri.

Metoda BCCT mendorong anak-anak usia dini untuk menjalankan nilai-nilai mulia sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Qur’an seperti hormat, jujur, sayang teman, rajin, bertanggung jawab, disiplin, dan lain-lain. Nilai-nilai positif tersebut dibangun melalui program sehari-hari (daily activities) seperti makan, bermain, tidur, dan lain-lain. Kemampuan klasifikasi pada anak-anak terhadap benda kongkrit, misalnya mainan, berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran sudah mulai dibangun pada diri anak sejak bayi.

Disiplin diterapkan dengan menggunakan pendekatan disiplin dengan cinta (disciplin with love). Disiplin diterapkan melalui simulasi langsung pada anak-anak sehingga mereka tahu dan mengerti tentang mengapa dan untuk apa aturan dibuat. Dalam hal belajar membaca, metoda BCCT sangat berbeda dengan cara belajar yang umum berlangsung di Indonesia, yaitu melalui mengeja A, B, C dan siswa disuruh duduk rapi dengan tangan dilipat di atas meja. Metoda BCCT menggunakan sistem sentra sebagai sarana bermain anak. Kemampuan dan keterampilan anak dibangun melalui bermain tanpa tekanan dan paksaan dari guru maupun lingkungan. Pengetahuan dan keterampilan (knowledge and skills) anak diorganisasi dengan rapi.

Periode usia anak di bawah lima tahun (balita) merupakan periode paling kritis dalam menentukan kualitas hidup anak di masa yang akan datang. Pada lima tahun pertama kehidupan, proses tumbuh kembang anak berjalan sangat pesat. Para ahli menyatakan masa balita sebagai masa emas (golden age period) karena pada usia 0-2 tahun perkembangan otak anak mencapai 80%. Di masa inilah anak-anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan aspek-aspek dalam dirinya, baik secara fisik, kognitif, maupun sosio-emosional. Oleh karena itu, golden period harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Cikal bakal otak anak mulai terbentuk di usia kehamilan dini. Saat itulah anak sehat dan pintar bermula. Dari situ pulalah masalah dan gangguan perkembangan bisa muncul karena lempengan otak sudah terbentuk saat usia kehamilan 18 hari. Dari bentuk lempengan, pertumbuhan otak dalam janin akan terus tumbuh. Puncaknya saat kehamilan berusia antara empat bulan hingga enam bulan. Nutrisi yang baik dan kondisi psikis ibu yang stabil akan membentuk sel-sel otak. Semakin banyak sel otak yang tumbuh, semakin cerdas janin yang akan dilahirkan. Di masa kehamilan ibu tidak boleh stres karena akan mempengaruhi perkembangan sel-sel pembentukan otak janin. Setelah bayi lahir, sel-sel otak harus distimulasi agar semakin banyak pembentuk jaringan penghubung sel-sel otak. Stimulasi ini sangat penting dilakukan sejak dini. Otak anak yang kurang stimulasi tidak memiliki jaringan penghubung.

Struktur otak dan fungsi bayi secara permanen dipengaruhi oleh asupan gizi sejak awal, yaitu 28 hari pertama kehidupannya. Jika bayi kekurangan nutrisi, maka akan menimbulkan dampak negatif yang permanen pada perkembangan kecerdas­an anak. Nutrisi otak yang diperlukan pada golden period tersebut adalah tgrosine dan tryptophan, yakni asam amino esensial yang tidak diproduksi dalam tubuh sehingga harus didapatkan dari makanan, terutama susu yang berperan sebagai bahan baku neurotransmitter cathecolamine dan serotonin yang berfungsi dalam menyerap dan mengolah informasi diotak. Selain itu, bayi juga membutuhkan ALA/LA yang merupakan asam lemak esensial dan sebagai precusor DHA dan AA sangat penting dalam perkembangan otak. Ada lagi SA (asam sialat) yang berperan pada proses sinapsis, proses pembelajaran, dan pembentukan memori. Untuk myelinisasi yaitu pembentukan membran sel dan neurotransmitter untuk membantu per­kembangan otak diperlukan kolin. Pendeknya, golden age pada anak-anak merupa­kan masa yang penting untuk per­kembangan otak.

Upaya-upaya yang dilakukan untuk memperbaiki gizi masyarakat mulai menunjukkan hasilnya. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, prevalensi anak balita gizi kurang dan buruk menurun dari sebesar 18,4% pada tahun 2007 menjadi 17,9% pada tahun 2010. Hal ini patut disambut positif dengan tetap menjaga kewaspadaan karena kasus-kasus kekurangan gizi masih dijumpai di berbagai wilayah di Indonesia.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, di antaranya melalui Program Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI). Program ini diperkuat oleh Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif. Dengan terselenggaranya pengembangan anak usia dini yang holistik integratif, maka diharapkan kebutuhan esensial anak usia dini secara utuh yang meliputi kesehatan dan gizi, rangsangan (stimulasi) pendidikan, pembinaan moral-emosional, dan pengasuhan dapat terpenuhi.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) turut berperan dalam implementasi pengembangan anak usia dini holistik integratif melalui kelompok kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB). Pengembangan anak usia dini holistik integratif dilakukan di kelompok BKB, Pos PAUD, dan Posyandu. Kelompok BKB meningkatkan pengetahuan orang tua dan keluarga yang memiliki anak balita mengenai pengasuhan; Pos PAUD memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak usia dini; sedangkan Posyandu memberikan layanan kesehatan bagi anak-anak usia dini tersebut.

Pola asuh anak juga tidak terlepas dari budaya bermain anak. Dalam literatur psikologi perkembangan, anak usia 0-6 tahun adalah seorang “peniru ulung” dan sekaligus “pembelajar ulet”, tapi bukan seorang “pendengar yang baik”. Anak seusia ini akan lebih mudah belajar dan paham dengan melakukan aktivitas, bukan dengan diceramahi atau sekadar kata-kata. Karena itu, anak usia dini memerlukan aktivitas bermain untuk merangsang perkembangan syaraf. Menurut Freud dan Erikson (Santrock, 1998) bermain bagi anak sangat berguna sebagai salah satu bentuk penyesuaian diri, membantu anak menguasai kecemasan dan konflik yang dihadapinya. Permainan diyakini mampu meredakan ketegangan sehingga membantu anak dalam menyelesaikan masalah dan konflik yang dihadapi dalam hidupnya. Untuk mewujudkan hal-hal tersebut di atas, perlu untuk menciptakan lingkungan belajar yang bermakna bagi anak usia dini antara lain melalui berbagai permainan bermakna yang mampu memberikan kenyamanan bagi anak dalam belajar dan stimulasi yang tepat akan terwujud.

Permainan tradisional mampu memacu perkembangan syaraf anak secara seimbang sehingga anak tidak hanya pintar secara intelektual, tapi juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial sedangkan permainan modern cenderung mendidik anak untuk bersikap individual, egois, dan antisosial. Permainan tradisional untuk anak-anak seperti permainan tepuk ame-ame dapat memacu keseimbangan otak kanan dan otak kiri; permainan dhakon dapat membantu anak untuk memahami strategi untung-rugi; dan permainan ciluk ba dapat merangsang kecerdasan emosional dan sosial anak. Sayangnya, permainan-permainan tradisional kini telah banyak hilang dan digantikan oleh permainan modern.

Kepala BKKBN Prof. dr. Fasli Jalal, PhD, SpGK berharap semua pihak dapat bersama-sama untuk meningkatkan komitmen para pengambil kebijakan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama untuk memberikan hak-hak anak melalui pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang yang baik sejak dini. Pertama, memanfaatkan wadah yang berkaitan dengan pengasuhan dan pemenuhan gizi anak seperti kelompok BKB, PAUD, dan Posyandu dalam meningkatkan pembinaan dan pengasuhan anak di lingkungan sekitar. Kedua, memberikan stimulasi yang tepat bagi anak dengan melakukan permainan bermakna agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Ketiga, memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada orang tua dalam pengasuhan anak yang baik. Fasli Jalal berharap kemitraan dan peran serta semua pemangku kepentingan dapat mendorong terciptanya anak-anak berkualitas antara lain dengan cara membuka seluas-luasnya akses masyarakat terhadap informasi dan pelayanan pembinaan dan pengasuhan anak sejak dini melalui pengetahuan yang didapat maupun program pemerintah yang sudah ada saat ini. (Humas/AH/AT)

Sumber : Siaran Pers Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *