MENJADI WANITA MANDIRI DALAM KELUARGA

MENJADI WANITA MANDIRI DALAM KELUARGA

Wanita adan keluarga seakan merupakan kesatuan tak terpisahkan. Wanita memberikan sumbangan yang khas demi terbentuknya keluarga yang harmonis dan bahagia. Sementara itu di dalam keluarga, wanita mewujudkan jati dirinya, mengambil peran dalam kehidupan perkawinan, menjadi ibu, kekasih dan melatih diri menjadi wanita mandiri.

Pengalaman masa kanak-kanak tercermin di dalam diri seorang wanita dewasa, karena pengalaman tersebut juga mengajarkan hal-hal yang merupakan ciri wanita.

PENGARUH KELUARGA TERHADAP IDENTITAS WANITA

Keluarga sangat berarti dalam pembentukan identitas wanita. Identitas dikembangkan di dalam keluarga, dan individu dikenal sebagai anggota keluarga-keluarga tertentu. Keluarga adalah komunitas pertama, wahana untuk mengembangkan dan memelihara sosialitas manusia; keluarga merupakan konteks social tempat seorang individu dibentuk menjadi suatu makhluk social. Kita mengembangkan identitas kita sebagai makhluk social yang khas, dengan kepribadian yang unik, pertama-tama melalui hubungan-hubungan di dalam keluarga; dengan orangtua, saudara, dan orang-orang lain yang tinggal bersama misalnya anggota keluarga / sanak saudara. Hubungan-hubungan ini juga dipengaruhi oleh hal-hal seperti kedudukan didalam keluarga (anak tunggal, anak tengah, bayi) jenis kelamin dan usia orangtua.

ORANG TUA

Hubungan yang paling berpengaruh adalah hubungan dengan orangtua. Kita sering melakukan atau mengatakan sesuatu persis seperti cara ibu kita. Pada hal kita menyadari bahwa tidak ada alasan untuk meniru sikap seperti itu. Dalam banyak hal kita menyerupai orang tua kita. Walaupun demikian, kita menentang hal ini sebagai bagian dari proses pendewasaan diri.

 

 

MENJADI WANITA DEWASA

Suatu aspek lain dari identitas dan keluarga berhubungan dengan proses pendewasaan. Di dalam hubungan keluarga kita, kadang-kadang proses pendewasaan ini tidak begitu diperhitungkan, baik pada masa remaja dan bahkan pada masa dewasa. Identitas berkembang melalui proses, dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Saat pencarian identitas inilah merupakan saat yang penting. Perlawanan terhadap orangtua dan nilai-nilai keluarga merupakan bagian dari proses pencarian identitas sebagai individu yang berdiri sendiri. Kadang-kadang anak-anak angkat menjadi berminat untuk mengetahui siapa orangtua mereka yang sebenarnya, sebagai bagian dari pencarian identitas mereka sendiri. Hubungan keluarga berubah sesuai dengan pengembangan identitas. Kadang-kadang hubungan ini tidak begitu berubah pada masa dewasa. Di tempat kerja dan hubungan dengan teman-teman, pasangan atau anak-anak, kita berhubungan sebagai orang dewasa, tetapi kita mungkin masih diperlakukan sebagai anak oleh orangtua kita; bahkan mungkin kita kembali ber-tingkah laku serba tergantung pada orangtua. Jadi identitas kedewasaan kita tidak kokoh. Kaum wanita dapat berubah tempat bergantung. Ketergantungan pada orang tua berubah menjadi ketergantungan pada suami, karena tidak mampu mengembangkan suatu identitas sebagai orang dewasa yang sesungguhnya. Hal ini terutama disebabkan oleh peranan berdasarkan jenis kelamin, yang sangat mempengaruhi identitas seseorang di dalam kebudayaan kita.

JENIS KELAMIN

Jenis kelamin merupakan aspek identitas yang sangat berarti. Anak-anak putrid dan putra mempunyai pengalaman yang  berbeda tentang pembentukan identitas jenis kelamin. Bagi anak putri, identitas dikembangkan agar menyerupai ibu mereka dan dekat dengan mereka; sedangkan bagi anak  putra, identitas berarti menjadi berbeda dari ibu yang mengasuh dan tidak terikat. Karena itu, kaum wanita mengembangkan suatu pribadi yang lebih berhubungan dengan orang lain daripada kaun pria. Kaum wanita mengembangkan suatu identitas sebagai makhluk yang berada didalam suatu hubungan dan hubungan tersebut diasosiasikan dengan pengasuhan.

Sumber : Jane Cary Peck, Wanita dan keluarga, kepenuhan jati diri dalam perkawinan dan keluarga

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *