Peran Penting Perempuan Bantu Percepatan MDG’s 20

Peran Penting Perempuan Bantu Percepatan MDG’s 20

 

Kaum perempuan sudah mengalami banyak kemajuan untuk mendapat akses dalam pembangunan. Namun budaya patriarkhi masih menyebabkan pencapaian perempuan dibanding laki-laki lebih rendah.

“Tingkat pendidikan kaum perempuan Indonesia masih memprihatinkan. Buktinya, angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah pada laki-laki masih lebih tinggi dibanding perempuan,” tukas Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam Seminar Teleconference Koalisi Kependudukan bertema : ‘PEREMPUAN DAN KELUARGA INDONESIA DI ANTARA 7 MILYAR PENDUDUK DUNIA’ di BKKBN Pusat Jakarta pada 24 April 2012 lalu.

Berdasar data BPS tahun 2010, usia harapan hidup perempuan Indonesia adalah 71,74 tahun, sedangkan laki-laki 67,51 tahun. Namun, angka melek huruf laki-laki adalah 95,65 sedangkan perempuan 90,52. Selain itu, rata-rata lama sekolah laki-laki berada pada angka 8, 34 tahun sementara perempuan berada pada angka 7,5 tahun.

Ketimpangan ini makin terlihat jelas jika melihat kontribusi perempuan dalam pendapatan nasional. Sumbangan pendapatan perempuan masih berada di urutan 33,5. Jauh di bawah laki-laki yang yang mencapai 66,5. Jika dibandingkan dengan negara lain, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia saat ini berada pada peringkat 124 dari 187 negara di dunia.

“Jika capaian indicator di atas sudah seimbang antara laki-laki dan perempuan, Indonesia sejatinya dapat meraih peringkat IPM  yang lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang,” kata Linda.

Lebih lanjut lagi, Meneg PP dan PA mengarahkan kebijakan pembangunan pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender pada tiga aspek strategis, yaitu pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Salah satu upaya konkritnya addalah menyusun kebijakan mengenai industri rumahan, sebab hampir 70 persen perempuan berkiprah di sektor informal atau ekonomi rumah tangga.

Pentingnya pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender ini tak lepas dari tujuan besar untuk menyejahterakan keluarga. Sebab memberdayakan perempuan akan sekaligus berdampak pada pemberdayaan keluarga. Setiap anak memerlukan sosok panutan, baik dari sisi ibu dan ayahnya.

Apabila anak sudah mengenal kesetaraan gender sejak dini, nilai-nilai yang dikembangkan anak akan lebih seimbang dan harmonis. Kerjasama antara ibu dan ayah akan membantu pembentukan karakter anak yang menghargai sesame dan bertanggungjawab.

Pada kesempatan yang sama, Irawati Hermantyo dari Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menjelaskan, peran perempuan dalam Milleniun Development Goal’s (MDG’s) tercakup dalam tiga tujuan penting yaitu, mendorong kesertaan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu.

Di antara ketiga target MDG’s ini, yang paling sulit dilakukan adalah meningkatkan kesehatan ibu. Pasalnya, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia diperkirakan masih jauh dari target yang diharapkan. Pada tahun 1991, angka kematian ibu di Indonesia adalah 390 per 100.000 kelahiran hidup. Target tahun 2015 adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup. “Pada tahun 2007, angkanya menurun menjadi 228 per 100.000 kalahiran hidup, angka ini masih kurang 2 kali lipat dari yang ditargetkan,” ungkapnya.

Pada target MDG’s lainnya, pencapaian pemerintah sudah cukup terpenuhi. Misalnya angka kematian anak akan segera tercapai pada tahun 2015, yaitu 32 per 1000 kelahiran dari 97 kematian per 1000 kehamilan pada tahun 1991.

Tingginya angka kematian ibu ini disebabkan karena kehamilan di usia remaja atau usia tua, jug akarena terlalu sering atau terlalu banyak melahirkan. Bisa juga disebabkan karena kehamilan tak diinginkan yang berujung pada aborsi yang tidak aman.

“Untuk itu, program-program peningkatan kesehatan perempuan juga harus melibatkan laki-laki dan perempuan, termasuk dalam pengendalian kuantitas dan peningkatan kualitas penduduk,” kata Irawati.

Program pemberdayaan perempuan tidak semata-mata diarahkan kepada perempuan. Menurut Irawati, peningkatan kesehatan dan pemberdayaan perempuan tidak akan terwujud jika kaum laki-laki tidak ikut berperan aktif dalamnya. Laki-laki memiliki peran ikut menyuarakan pentingnya peningkatan kesehatan perempuan kepada masyarakat umum sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap istrinya.

Pentingnya peran perempuan di  masa lalu, kini dan mendatang, diakui Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr. dr. Sugiri Syarief, bisa membantu pemerintah melakukan percepatan pencapaian sasaran tujuan pembangunan MDG’s 2015.

“Beberapa target MDG’s berkaitan derat dengan perempuan, yaitu mewujudkan pendidikan dasar untuk semua (MDG ke-2), mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (MDG ke-3), menurunkan angka kematian anak (MDG ke-4), dan meningkatkan kesehatan ibu (MDG ke-5),” ungkap Sugiri.

Ia menambahkan, perempuan harus mengembangangkan keahlian mereka masing-masing, sehingga dapat menjadi agen pembaharu dan pembangunan yang tidak pernah putus asa. “Sebab ibu adalah sosok teladan dan tiang kehidupan keluarga, sekaligus sosok pertama dan utama pembangunan bangsa,” tandasnya.

Menurut Sugiri, perempuan memiliki peranan penting dalam pengendalian kuantitas penduduk, dan peningkatan kualitas penduduk. Hal ini berkaitan dengan fakta perkembangan penduduk Indonesia dan dunia.

Sumber : Majalah Keluarga Mandiri Gemari Edisi 136/Tahun XIII – Mei 2012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *