Pertemuan Peningkatan Pelayanan KB di Rumah Sakit

Pertemuan Peningkatan Pelayanan KB di Rumah Sakit

Dalam rangka untuk meningkatkan pelayanan KB di rumah sakit, sehingga cakupan peserta KB baru di rumah Sakit meningkat,  Perwakilan BKKBN Jawa Timur mengadakan Pertemuan Peningkatan Pelayanan KB Rumah Sakit yang diikuti para Direktur Rumah Sakit, Kepala SKPD KB se Jawa  Timur dan Dinas Kesehatan provinsi Jawa Timur, bertempat di Rumah Sakit Husada Utama Surabaya (25/8).

Pertemuan yang dibuka oleh Deputi BKKBN Bidang KB dan KR  dr. Wicaksono, M. Kes, menampilkan sebagai penyaji dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Pusat dengan bahasan Pengembangan pelayanan KB di Rumah Sakit, Prof. Biran Affandi, SP.OG menyampaikan Pelayanan KB Pasca Persalinan dan Keguguran di RS dan KB Post Placenta, Dr. Sutrisno, Sp.OG (RSUD Saiful Anwar) menyampaikan
Trik dan Tehnik pemasangan IUD pasca placenta pada persalinan normal, Kepala Perwakilan BKKBN Jatim Djuwartini, SKM, MM menyampaikan Kebijakan Pelayanan KB Paca Persalinan dan Keguguran di Jawa Timur, Dinas Kesehatan membahas Implementasi Pelayanan KB Melalui Jampersal dan Jamkesmas dan Direktur RS dr. Soetomo mengenai Peran RS Dr. Soetomo dalam Peningkatan Pelayanan KB serta Dr. Supriyono, Sp.OG (Direktur RUMKITAL dr. Ramelan) berbicara tentang Peran Rumkital dr. Ramelan dalam peningkatan pelayanan KB.

Deputi BKKBN Bidang KB dan KR  dr. Wicaksono, M. Kes, dalam sambutannya menyampaikan bahwa rumah sakit seluruh Indonesia kini berjumlah lebih dari 1500 dengan fasilitas yang sudah semakin baik.

“Dari pengalaman,  setiap PUS yang masuk rumah sakit dan diberi konseling cukup, 60 persennya akan ikut KB” ujar dr. Wicaksono. Dengan demikian diharapkan rumah sakit akan meningkatkan pelayanan dan konseling.

Sementara itu Kepala Bidang KB dan KR Perwakilan BKKBN Jatim  Kustiyah Wardani, SS sebagai Panitia melaporkan bahwa dewasa ini pelayanan KB di rumah Sakit (PKBRS) menurut data dan fakta mengalami kemunduran yang sangat berarti. PKBRS terbilang cukup sukses di era 1980 sampai 1990 an. Pada waktu itu pelayanan KB di rumah Sakit diselengarakan hampir diseluruh rumah sakit di Indonesia, dimana setiap rumah sakit membentuk Unit Pelaksana Fungsional (UPF) yang dipimpin oleh Direktur PKBRS di Bagian Obgyn dan diberikan nomor klinik PKBRS. Tapi dalam era desentralisasi ini boleh dikatakan pelayanan KB di rumah sakit mengalami penurunan atau belum optimal sesuai harapan.

Dari pertemuan ini antara lain diharapkan akan mampu meningkatkan akses pelaytanan KB Pasca Peersalinan dan Pasca Kjegururan di rumah sakit hingga peserta JB diu rumah sakit mingkaat., (AT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *