Perwakilan BKKBN Jatim adakan Peringatan “7 Billion People”

Perwakilan BKKBN Jatim adakan Peringatan “7 Billion People”

Untuk menggugah minat masyarakat terhadap persoalan-persoalan kependudukan serta memberikan warning kepada para pengambil kebijakan maupun khalayak umum terhadap ancaman ledakan penduduk, Perwakilan BKKBN Jatim akan adakan berbagai rangkaian kegiatan yang dikemas dalam suatu tema “7 Billion People”.

Demikan disampaikan  Drs. Humphrey Apon, MPA selaku Kepala Bagian Pengendalian Penduduk  Perwakilan BKKBN Jawa Timur    kepada wartawan  di  kantornya baru-baru ini. Masih menurut Humphrey Apon rangkaian kegiatan akan diadakan sejak tanggal 23 Nopember 2011. Kegitan tersebut antara lain Talkshow di Radio, TV dan publikasi di Surat Kabar, aksi teatrikal di jalan protokol tentang aspek Kependudukan dan KB, PembagianFlyer kepada masyarakat luas oleh para PLKB (200) orang menyebar di berbagai lokasi. Juga ada acara “ 2 Jam Bersama Pakdhe Karwo” yang akan mengupas tuntas persolanan kependudukan di Jatim. Selain itu juga akan diadakan  penganugerahan Population Award oleh Bapak Menko Kesra, Pemberian hadiah Bayi Idaman  oleh Bapak Gubernur Jawa Timur, Launching kegiatan “Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan (PHBK)” oleh Bapak Kepala BKKBN Pusat, Penjelasan ringkas propgram PHBK oleh BKKBN Pusat, Dialog interaktif dengan Bapak Menkokesra, Kepala BKKBN Pusat, Gubernur Jatim, Dewan Pakar Koalisi Kependudukan  Jatim dll. Kegiatan akan diadakan di Land MarkDarmo Surabaya.

Acara selain melibatkan masyarakat umum juga diharapkan dihadiri oleh mitra kerja dan lintas sektor tingkat Provinsi, Kepala SKPD KB Kabupaten/Kota se Jawa Timur.

Dengan acara tersebut diharapkan akan terjadi adanya kerjasama yang baik dengan mitra kerja dalam rangka mewujudkan pembangunan berwawasan kependudukan. Masyarakat menjadi ikut peduli dan berminat terhadap persoalan Kependudukan. Juga, meningkatnya komitmen para stakeholder terhadap Pembangunan kependudukan dan KB.

Seperti diketahui, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan bahwa jumlah penmduduk di bumi pada akhir Oktober 2011 mencapai tujuh miliar jiwa. Jumlah ini melonjak drastis pada setengah abad terakhir. Pada 1950, jumlah penduduk di muka bumi ini masih 1 miliar saja. Namun pada setengah abad terakhir, populasi melonjak luar biasa. Jumlah penduduk dunia tumbuh begitu cepat.

Dengan penduduk yang masih terus bertambah sekitar 80 juga jiwa per tahun, sulit rasanya untuk tidak merasa prihatin. Saat ini di bumi telah terjadi suatu fenomena alam yang komplek yang berlum pernah terjadi sebelumnya dan sering melanda di berbagai belahan dunia seperti : air tanah harus dicari semakin dalam, tanah terus terkikis, tanah longsor, penggundulan hutan, lahan pertanian berkurang digantikan kawasan pemukiman dan industri, gletser di kutub utara/selatan terus meleleh, jumlah ikan kian menyusut, punahnya terumbu karang, perubahan iklim tidak menentu/global warming.

Di kalangan pakar pembangunan telah ada konsesus bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya berdampak buruk terhadap suplai bahan pangan, namun juga semakin membuat kendala bagi pengembangan tabungan, cadangan devisa, dan sumber daya manusia (Meier, 1995). Setidaknya terdapat tiga alasan mengapa pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memperlambat pembangunan yaitu :

Pertama, akan mempersulit pilihan antara meningkatkan konsumsi saat ini dan investasi yang dibutuhkan untuk membuat konsumsi di masa mendatang semakin tinggi.

Kedua, di negara-negara yang penduduknya tergantung pada sektor pertanian, pertumbuhan penduduk mengancam keseimbangan antara susmberdaya alam yang langka dan penduduk. Sebagian karena pertumbuhan penduduk meperlambat perpindahan penduduk dari sektor pertanian yang rendah produktivitasnya ke seketor pertanian modern dan pekerjaan modern lainnya.

Ketiga, semakin sulit melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan ekonomi dan sosial. Tingginya kelahiran merupakan penyumbang utama bagi pertumbuhan kota yang cepat dan bermekarnya kota membawa masalah-masalah baru dalam menata maupun mempertahankan kesejahteraan warga kota.

Sementara apabila di kaji lebih mendalam, maka dapat ditemukan bahwa permasalahan-permasalahan yang dapat timbul akibat terjadinya perubahan pada aspek kependudukan di suatu wilayah adalah multidimensi, diataranya adalah :

  1. Permasalahan sosial budaya, antara lain permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan , kebudayaan, konflik horisontal dan status sosial.
  2. Permasalahan ekonomi masyarakat, antara lain permasalahan yang berkaitan dengan kemiskinan, kesejahteraan, produktifitas dan beban ketergantungan.
  3. Permasalahan ketenagakerjaan, antara lain pengangguran terbuka, setengah pengangguran dan pekerja di sektor informal.
  4. Permasalahan lingkungan hidup, antara lain pencemaran lingkungan, bencana alam banjir, tanah longsor, peningkatan proporsi lahan pekarangan dan bangunan yang artinya berkurangnya lahan pertanian dan perkebunan, keseimbangan daya tampung dan daya dukung lingkungan. (AT).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *