Rekanalisasi Bergantung Usia Istri

Rekanalisasi Bergantung Usia Istri

  BKKBN Sosialisasikan Fatwa Halal Vasektomi

Surabaya – Penentuan jenis kontrasepsi untuk laki memang sangat terbatas. Meski demikian, semakin banyak laki-laki yang secara terbuka mengikuti program vasektomi. Data Bapemas KB Surabaya menunjukkan, pada Januari hingga Juli 2012, terdapat 269 akseptor vasektomi. Jumlah itu jauh melebihi target yang hanya 120 akseptor.

Meski begitu, spesialis urologi dr. Nur Rasyid, Sp.U menuturkan, ada satu keraguan laki-laki saat menjalani vasektomi. Yakni suatu hari berubah pikiran untuk mempunyai anak lagi. Padahal masih bisa dilakukan rekanalisasi.

“Setelah vas deferens atau saluran spemanya dipotong saat vasektomi, bisa disambung kembali dengan menggunakan benang yang lebih tipis daripada rambut,” jelasnya kemarin (29/9) dalam kesempatan Seminar Eksekutif Peningkatan Kesertaan KB Pria Untuk Mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Program KB bagi Tokoh Agama.

Memang, lanjut dia, keberhasilan rekanalisasi ditentukan beberapa faktor. Salah satunya usia istri. Sebab kesuburan perempuan makin menurun seiring pertambahan usia. “Kualitas dan kuantitas ovum semakin menurun,” ujar dokter RS Ciptomangunkusumo Jakarta itu.

Dalam acara yang dihelat oleh BKKBN tersebut, dihadirkan beberapa pasangan yang memberikan testimony terkait vasektomi. Diantaranya, pasangan asal Kecamatan Pakal, Suharto dan Solihati. Menurut Suharto, sebelum melakukan vasektomi, dirinya merasa kasihan dengan sang istri yang selalu mendapatkan efek samping dari KB yang dipilih. Misalnya sejak KB suntik, Solihati menjadi cepat gemuk, KB pil membuat sang istri pusing, dan IUD membuat Solihati keputihan.

“Setelah istri melahirkan anak kelima, saya putuskan gentian saya yang KB. Saya pilih vasektomi,” ungkapnya. Setelah itu, menurut dia tidak ada yang berubah dalam kehidupan seksualnya. “Malah seperti penganten baru,” imbuhnya disambut tawa peserta.

Selain Suharto dan Solihati, ada pasangan Sudjatmiko dan Wida yang tidak hanya sukses melakukan vasektomi. Mereka juga menjalani rekanalisasi. Singkatnya, Sudjatmiko yang melakukan vasektomi pada 1988 bercerai pada 1992. “Sejak saat itu saya pikir sudah tidak akan punya anak lagi. Saya tidak berpikir untuk menikah lagi,” tutur warga Injoko tersebut.

Namun pada 1997 Sudjatmiko berkenalan dengan Wida, mereka pun menikah. Dalam perjalanannya, Wida mendengar tentang rekanalisasi. Akhirnya mereka bertekad mencoba. Tak disangka beberapa bulan kemudian, Wida hamil. Kini mereka mempunyai seorang putrid dan seorang putra.

Menurut Kepala BKKBN Jatim, Djuwartini, itu merupakan kali pertama BKKBN mengadakan sosialisasi pasca deklarasi fatwa halal vasektomi pada Juli lalu. Perempuan yang akrab disapa Tini tersebut menuturkan, angka kelahiran masih sangat tinggi. Misalnya di Jatim terdapat 70.000 kelahiran per tahun. “Artinya, dalam sehari, terdapat 1.600 kelahiran. Itu masih tinggi dan perlu ditekan. Syukurlah, sekarang MUI ikut membantu meyakinkan masyarakat,” jelasnya.

Sekretaris Jenderal MUI, KH Ichwan Syam menuturkan, Salah satu peran tokoh agama memang dalam pertimbangan keagamaan. Setelah dilakukan rapat internal, Juli lalu MUI mengeluarkan fatwa halal untuk vasektomi. (ina/c6/nda)

Sumber : Harian Jawa Pos (Minggu, 30 September 2012)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *