RSUD Ngudi Waluyo Blitar, Juara I PERSI Award 2012

RSUD Ngudi Waluyo Blitar, Juara I PERSI Award 2012

 

Setelah melalui beberapa tahapan penilaian, akhirnya RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dinobatkan sebagai Juara pertama PERSI (Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia) Awards Tahun 2012 untuk kategori Hospital Family Planning Project. Hal ini diumumkan pada Malam Penganugerahan PERSI Award di Jakarta Convention Center, Jum’at malam (9/11) lalu. Menyerahkan penghargaan saat itu, Plt. Kepala Perwakilan BKKBN, Drs. Subagyo, MA yang kemudian diterima oleh Wakil Direktur Pelayanana Medis RSUD Ngudi Waluyo, dr. Ahas Loekqijana, MARS.

Prestasi RSUD Ngudi Waluyo bukan tanpa usaha. Penghargaan tersebut berhasil diraih karena komitmen RSUD Ngudi Waluyo yang besar dalam mendukung pelaksanaan program KB. Hal ini terbukti dengan partisipasi aktif pihak rumah sakit dalam pelayanan KB. Lebih – lebih dalam penanganan KB pasca persalinan, khususnya dengan menggunakan MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) IUD.

RSUD Ngudi Waluyo memang mengutamakan pelayanan IUD Post Placenta bagi para ibu yang menjalani proses persalinan disana. IUD Post Placenta mempunyai keuntungan tersendiri, selain lebih efektif karena dilakukan dalam waktu 10 menit setelah keluarnya plasenta (pada persalinan normal – red), metode ini juga praktis dan dapat mengurangi kesakitan yang dialami para Ibu karena dipasang sekaligus setelah persalinan.

Menurut dr. Loekqijana, setiap bulannya, RSUD Ngudi Waluyo melayani lebih dari 100 akseptor KB IUD Post Placenta. Hingga September 2012, tercatat 1.323 akseptor IUD Post Placenta dilayani di rumah sakit yang beralamat di Jl. dr. Soecipto, Wlingi ini. Sedangkan secara keseluruhan, pelayanan KB semua metode mencapai 1.794 akseptor dari total 1.934 jumlah persalinan yang ditangani.

“Para ibu yang selesai melahirkan kami tempatkan di kamar khusus, biasanya ada 3 atau 4 pasien di dalamnya. Dengan begitu, pasien bisa saling bertukar pengalaman. Ada pasien yang sudah dipasang IUD Post Placenta, berceritera pada pasien lainnya sehingga terjadilah getok tular. Ini menjadi salah satu sarana KIE yang bagus,” tambahnya.

Hal ini tidak lepas dari andil Bupati Blitar dan sektor terkait yang memberikan angin segar bagi pelaksanaan program KB di wilayah Kabupaten Blitar tersebut. Diantaranya dengan diterbitkannya Perda mengenai anjuran untuk ikut KB setelah melahirkan khususnya dengan menggunakan metode IUD pasca persalinan.

Sedangkan Plt. Kepala Perwakilan BKKBN, Subagyo, di sela acara malam penganugerahan PERSI Awards mengutarakan bahwa cakupan pelayanan KB di rumah sakit melemah dekade belakangan ini. Hal ini tercermin dari hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), yang menyebutkan pada 2003 RS pemerintah yang memberikan layanan KB masih mencapai 6,9 persen, kemudian pada 2007 menurun menjadi 4,3 persen. Hal serupa terjadi pada pelayanan KB di RS swasta, yakni dari 3,4 persen menjadi 2,2 persen.

“Melemahnya cakupan layanan KB di RS tentunya sangat tidak menguntungkan bagi upaya pencapaian target (Millenium Development Goal’s) MDG’s dan pengendalian penduduk. Padahal saat ini kebanyakan orang di wilayah perkotaan melakukan persalinan di rumah sakit. Di Jakarta misalnya, 57 persen persalinan dilakukan di RS swasta dan 13  persen di RS pemerintah,” jelas Subagyo.

Dengan adanya program Jaminan Persalinan (Jampersal) yang menggratiskan biaya persalinan, diperkirakan jumlah masyarakat  yang bersalin di RS bakal terus bertambah. Subagyo menegaskan hal ini sejatinya dapat dimanfaatkan untuk menjaring peserta KB baru sebanyak – banyaknya.

“Untuk itu dalam upaya meningkatkan akses dan kualitas pelayanan KB, khususnya di rumah sakit, maka perlu dibuat  terobosan dan inovasi kembali dalam bentuk revitalisasi PKBRS, (Pelayanan Keluarga Berencana di Rumah Sakit)” ungkapnya. Melalui upaya tersebut Subagyo berharap angka kematian ibu yang masih tinggi di Indonesia yakni 228 per 100 ribu kelahiran hidup, bisa ditekan.

Untuk itu pula PERSI Awards diadakan tiap tahun, khususnya untuk kategori Hospital Family Planning Project, salah satu tujuannya adalah guna meningkatkan peran serta RS dalam upaya pencapaian pemakaian kontrasepsi, khususnya metode jangka panjang,” pungkasnya. (Humas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *