Setelah Vasektomi dan Sesudah Rekanalisasi Tetap Joss

Setelah Vasektomi dan Sesudah Rekanalisasi Tetap Joss

Barangkali seseorang yang membaca kisah Mbah Poleng ini mengira kalau ceritera ini adalah karangan belaka, untuk keperluan  KIE program KB Vasektomi. Ceriteranya memang menarik, persis ceitera pada sinetron karya sutradara terkenal yang ditayangkan di televisi-televisi Indonesia. Apalagi Mbah Poleng adalah mantan karyawan BKKBN dan istrinya saat ini masih bekerja di Bapemas KB Kota Surabaya.

Ceritera mbah Poleng diawali dengan kebahagian rumah tangganya  yang sudah dikaruniai dua anak perempuan. Karena sayangnya kepada Istri Mbah Poleng-pun  ikut KB vasektomi, dari pada istri yang harus ikut tubektomi. Namunsayang, kebahagiaan rumah tangga Mbah Poleng diterjang prahara. Biduk rumah tangganya hancur ditengah jalan, Mbah Poleng terpaksa harus bercerai dengan istrinya. Tidak berapa lama, Mbah Poleng bertemu dengan seorang gadis, putri tunggal. Keduanya saling mencinta walau umur jauh berbeda. Ketika keduanya ingin meningkatkan hubungan ke jenjang perkawinan, orang tua si gadis menentang keras. Mana ada orang tua yang anak  semata wayangnya akan dinikahi oleh duda dengan dua anak yang sudah tak mungkin memberilkan keturunan lagi karena sudah di vasektomi.  Ini sama saja  memutus dinasti keluarga. Namun apa daya cinta sudah terlanjur menusuk dalam. Si gadis tetap ngotot untuk menikah dengan Mbah Poleng.  Orang tua gadis pun marah bukan kepalang, si gadis diusir. Keduanya pun akhirnya menikah tanpa restu orang tua gadis.  Untuk membuktikan bahwa vasektomi  bisa disambung lagi. Mbah Poleng pun dengan bantuan dokter menjalani rekanalisasi. Hanya butuh waktu kurang dari tiga bulan, istri baru mbah Poleng sudah hamil. Kebahagiaan rumah tangga Mbah Poleng bertambah-tambah, ketika putri ketiga dari istri kedua lahir dan mertua menerima mereka dengan ikhlas . Kini Mbah Poleng bahagia dengan empat orang anak dan tiga cucu.

Kisah ini kisah nyata, dialami oleh Nyoto Djatmiko, pria kelahiran Bojonegoro 56 tahun lalu yang kini tinggal di sebelah Barat persimpangan jalan Kereta Api Kebonsari Saurabaya. Nyoto Djatmiko yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Poleng ini kini tinggal dengan istri keduanya Mamiek Widya Pratiwi (42) dan kedua putranya yakni  Wangsit Galuh Candrakirana (12) dan Anak Mas Gading Gondokusumo  (5).

“Saya ikut vasektomi tahun  89, awal ada vasektomi tanpa pisau, dilakukan oleh dr. Agung dari PKBI” ujar Mbah Poleng “ Ya karena sayang sama istri, dan saya sudah memutuskan tidak ingin punya anak lagi walau anak saya dua-duanya perempuan”  imbuh mbah Poleng.

Tidak ada yang tahu perjalanan hidup seseorang, Mbah Poleng yang kini menjadi wirausahawan las dan depot ini, tidak menyangka kalau rumah tangganya akan hancur di tengah jalan. Tahun 96 dia harus cerai dengan istrinya Lestari.

Tidak lama menduda. Mbah Poleng berkenalan dengan  seorang gadis, yang waktu itu bekerja di Koperasi BKKBN, Mbah Poleng waktu itu juga masih menjadi karyawan BKKBN Provinsi Jawa Timur. Karena saling cocok, tak berlama-lama mbah Poleng pun melamar gadis dari Madiun itu. Tetapi ternyata orang tua Mamiek, pak Waluyo menolak lamaran Nyoto Djamiko, karena pak Waluyo tahu Nyoto tak mungkin memberinya cucu dari anaknya yang hanya semata wayang, karena sudah vasektomi. Alasan itu tak bisa diterima oleh Nyoto maupun Mamiek, yang tahu persis kalau vasektomi bisa direkanalisasi.  Agaknya pak Waluyo tak mau tahu. Karena putrinye tetap ngotot, diapun diusir tak diakui anak lagi.

“Akhirnya saya menikah tanpa restu mertua”  kata Nyoto yang akrab dengan nama Mbah Poleng.  Mereka menikah tahun 1998. Kepedihan Mamiek sedikit terobati, dengan diterimanya dia sebagai karyawan BKKBN Kota Surabaya, yang kini beralih nama menjadi Bapemas KB. Mengingat Mamiek masih muda, umur sekitar 30 tahun. Nyoto Djatmikopun berinisiatif untuk rekanalisasi dengan mengunakan Askes. Rekanalisasi dilakukan oleh dokter Dody pada 13 Juli 1999, hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam dengan luka sayatan hanya satu centimeter.

“Saya bandingkan setelah vasektomi dan sesudah menjalani rekanalisasi, tak ada bedanya, tetap saja joss” ungkap Mbah Poleng. “Malah bekas vasektomi maupun rekanalisasi sekarang tak kelihatan,”imbuhnya,.

“Iya memang, dan aku sendiri bulan Agustus sudah hamil, namun karena kecelakaan, kayaknya keguguran, baru September hamil lagi” tambah Mamiek sambil senyum-senyum. Dan  akhirnya lahirlah putrinya Galuh tahun 2000. Enam tahun kemudian lahir putra keduanya Gading.  Karena Mamiek mempunyai hipertensi, keduanya lahir dengan operasicaesar.  Setelah kelahiran banyinya yang kedua Mamiek langsung ikut KB tubektomi (steril).

“Ngomong-ngomong masalah vasektomi dan tubektomi, menurut saya jauh perbedaanya.  Sangat mudah dan enak vasektomi, apalagi vasektomi bisa direkanalisasi. Jadi kalau laki-laki tak mau ikut vasektomi, sangat keliru. Karena ikut vasektomi sekarang bukan lagi operasi, tapi hanya merupakan tindakan, yang tidak sakit, dan boleh dikatakan tidak berbekas. Dan yang lebih penting lagi, tidak mengurangi apa-apa, tetap joss seperti sediakala” ujar Nyoito panjang lebar. Apalagi, menurut Nyoto untuk rekanalisasi terbilang tidak mahal, waktu itu dia hanya menambah uang Rp. 1, 5 juta karena minta di kelas satu, padahal jatahnya mestinya di kelas dua.

Mbah Poleng yang sudah mengundurkan diri dari BKKBN Provinsi Jatim, kini bakseorang artis. Kerap dia diminta untuk testimoni bagaimana vasektomi sampai rekanalisasi. Tidak saja testimoni didepan para bapak calon peserta vasektomi, juga didepan para alim ulama yang akan mengeluarkan fatwa. Pernah dia testomoni sampai ke Aceh.

Mbah Nyoto merasa bahagia, walau sebenarnya  hanya kepingin punya anak dua saja , terpaksa kini anaknya empat dari dua istri. Begitulah kehendak Tuhan. Kebahagaiaan semakin merekah manakala dari anak-anaknya dikarunia tiga cucu. Apalagi Mertuanya sekarang begitu sayang kepada Nyoto dan keluarganya. (AT/Humas BKKBN).

Comment (1)

  • Kurniasih hiryani Reply

    Suamiku vasektomi jg saat nikah dg istri pertama,krn udh punya 3 ank,dAn cerai…
    Aku ingin punya ank,,,tp gimana caranya,tkut biaya operasi vasektomi mahal…

    13 Maret 2019 at 3:06 PM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *