Sri Wahyuni Beberkan Usahanya Ajak Kaum Pria Untuk Vasektomi

Sri Wahyuni Beberkan Usahanya Ajak Kaum Pria Untuk Vasektomi

Tak Rikuh Blusukan ke Pasar, Warung dan Pelabuhan

Pria mengajak masyarakat ikut vasektomi atau KB pria sudah biasa. Menjadi luar biasa bila yang sosialisasi kaum perempuan. Salah satunya, Sri Wahyuni yang dinobatkan sebagai konselor dengan akseptor vasektomi terbanyak.

Sekitar Pukul 10.00 Kamis lalu (30/8), Sri Wahyuni datang ke Kantor Kelurahan Benowo. Dia menunggu anggota Paguyuban KB Pria Siwalan Mesra Pakal yang lain dan Ketua PAguyuban Suharto Ahmad. Beberapa saat kemudian, mereka yang ditunggu hadir.

Yuni-sapaan akrab Sri Wahyuni terlihat membawa alat peraga vasektomi yang berbentuk alat reproduksi pria. Brosur dan alat peraga tersebut dimasukkan ke dalam tas ransel yang selalu dia bawa.

Setelah beberapa menit berkumpul, mereka berangkat ke Gresik. Tempat yang dituju adalah Pelabuhan Gresik. Sekitar pukul 12.00 rombongan yang terdiri atas 6 itu tiba di pelabuhan. Sebagai tamu, mereka datang ke pos pelabuhan terlebih dahulu. “Kami meminta izin mau sosialisasi vasektomi,” ucap Yuni.

Setelah mendapatkan izin, mereka masuk pelabuhan. Dari kejauhan terlihat para pekerja pelabuhan sedang asyik mengobrol di warung. Yuni dan rombongan langsung menuju warung tersebut. Para pekerja agak kaget saat melihat kedatangan rombongan paguyuban yang mengenakan seragam ungu itu.

Rombongan tersebut dikira seles. Namun Yuni langsung menjelaskan bahwa pihaknya bukan datang untuk menjual produk, melainkan melakukan sosialisasi vasektomi. Para pekerja merasa asing dengan istilah vasektomi. Mereka semakin penasaran setelah dijelaskan bahwa vasektomi adalah KB Pria. “Masak kami mau dikebiri, laki-laki kok dikebiri,” ucap Yuni menirukan ucapan para pekerja.

Yuni pun berusaha menjelaskan vasektomi dan manfaatnya. Meski demikian, para pekerja itu masih merasa takut. Apalagi alat kelamin mereka harus dioperasi. Mereka juga khawatir “burung” mereka tak bisa ereksi lagi. “Jangan-jangan ‘burung’ saya nggak bisa berdiri setelah vasektomi,” ucap salah seorang pekerja.

Dijelaskan Yuni, alat kelamin mereka masih tetap bisa berfungsi normal. Warga Rejosari, Pakal, itu juga menjelaskan dengan alat peraga agar para pekerja tersebut lebih paham tentang vasektomi. Setelah mendengarkan penjelasan Yuni, para pekerja itu semakin mantap. Mereka juga diberi brosur agar bisa mengetahui tahapan vasektomi. Setelah sosialisasi di warung, Yuni dan rombongannya masuk ke kapal-kapal yang sedang bersandar.

Beberapa pekerja yang tengah duduk-duduk didatangi dan dijelaskan soal vasektomi. Pertanyaan yang sering diajukan hampir sama. Yaitu kekhawatiran jika alat kelamin mereka tidak bisa ereksi setelah vasektomi atau mereka takut merasa sakit saat dioperasi.

“Hal itu wajar karena selama ini mereka tidak tahu tentang vasektomi. Selama ini yang mereka ketahui adalah KB perempuan. Jadi istilah vasektomi masih asing di telinga mereka,” tutur alumnus SMKN 9 tersebut.

Setelah sosialisasi di pelabuhan rombongan paguyuban itu tidak langsung pulang. Mereka langsung berangkat menuju alun-alun Gresik. Tentu tujuannya bukan bersantai, tetapi bersosialisasi. Kerumunan orang di alun-alun  tidak luput dari perhatian Yuni. Dia dan rombongannya mendatangi satu per satu warga di lokasi tersebut. Sama dengan saat berada di pelabuhan, rombongan paguyuban itu dikira sales yang mau menjual produk.

Beberapa orang yang sedang duduk-duduk berusaha menghindar dan tidak menghiraukan sapaan Yuni. Bahkan ada yang langsung menolak sebelum rombongan menyampaikan sesuatu. Namun, masih ada yang sudi mendengarkan sosialisasi vasektomi. Setelah mengetahui materi yang disampaikan mereka semakin serius mendengarkan penjelasan Yuni dan kawan-kawan.

Yuni dan teman-temannya baru pulang ke rumah sekitar tengah malam. Keesokan hari ada beberapa orang yang menghubunginya dan bertanya soal vasektomi. “Mereka orang yang bekerja di pelabuhan,” jelas perempuan yang aktif sebagai kader lingkungan itu saat ditemui di rumahnya Sabtu (1/9) lalu. Menurut dia, sosialisasi yang dilakukan tidak sia-sia. Ada 12 orang yang siap ikut vasektomi. Sosialisasi, kata Yuni, kadang-kadang dilakukan di warung-warung di wilayah Pakal dan pasar. Dia juga sering melakukan sosialisasi sendirian. Dimana pun berada, Yuni selalu berbicara tentang vasektomi. Bahkan saat naik angkot dan bertemu dengan penumpang laki-laki, Yuni menyampaikan salah satu metode kontrasepsi khusus laki-laki tersebut.

Dia aktif menjadi konselor vasektomi sejak Paguyuban KB Pria Siwalan Mesra  Pakal didirikan pada 14 Mei 2011. Saat itu dia adalah perempuan satu-satunya di paguyuban tersebut. “Saya perempuan pertama yang bergabung. Setelah operasi vasektomi dilaksanakan, baru ada beberapa perempuan yang bergabung,” terangnya.

Atas kelihaiannya merekrut akseptor atau peserta KB, Yuni berhasil mengajak 18 pria untuk vasektomi hanya dalam waktu dua hari. Suaminya, Achmad Wardiono juga ikut vasektomi. Yuni semakin bersemangat setelah suaminya tercinta ikut program pemerintah itu.

Perempuan yang berulang tahun pada 30 Mei tersebut menyatakan, banyak alasan pria enggan vasektomi. Selain takut operasi dan khawatir alat kelaminnya tak bisa ereksi, mereka takut tidak punya gairah seks lagis etelah vasektomi. Yuni pun menjelaskan bahwa gairah seks akan semakin tinggi setelah ikut KB tersebut. “Saya aja bisa tiga kali dalam semalam, cetusnya lantas terbahak-bahak.

Menurut dia, rata-rata pria yang sudah ikut vasektomi akan semakin greng dalam masalah ranjang. Sebab tidak ada kekhawatiran terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Istri pun melayani sepenuh hati. Dia mencontohkan suaminya. Setelah vasektomi, sang suami jarang sekali mengeluh kelelahan saat bekerja. Bahkan dia jarang merasa pegal-pegal. Manfaat yang didapatkan suaminya itu dijadikan bahan untuk sosialisasi. “Banyak manfaat yang dirasakan setelah vasektomi,”terangnya.

Sampai saat ini, Yuni sudah berhasil  merekrut 36 pria untuk ikut vasektomi. Sekarang, kata dia, ada lima orang lagi yang direkrut. Berkat kerja keras bersama teman-temannya, Paguyuban KB Pria Siwalan Mesra Pakal menjadi yang terbaik tingkat nasional dalam kategori anggota vasektomi terbanyak se-Indonesia. Dia dan Ketua Paguyuban juga diundang ke NTB pada Juni lalu untuk menerima penghargaan itu.

Bahkan, pada Juni 2011 Yuni dinobatkan sebagai Kader KB terbaik se-Surabaya. Selain aktif menjadi Kader KB perempuan yang menamatkan sekolah dasarnya di SDN Benowo IV itu menjadi relawan yang membantu warga. Diantaranya membentu pengurusan KK (Kartu Keluarga), akta kelahiran dan surat pernyataan miskin (SPM) serta memiliki aktivitras sosial lainnya.

Sumber : Harian Jawa Pos (5 September 2012) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *