Tingkatkan PUP, BKKBN Blusukan ke Pondok Pesantren

Tingkatkan PUP, BKKBN Blusukan ke Pondok Pesantren

Pondok Pesantren Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’yah Sukerojo Situbondo Siap Kawal Program KKB

Surabaya, Bhirawa

Upaya Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jatim dalam meningkatkan Pendewasaan Usia Pernikahan (PUP) sudah tidak diragukan lagi. Melalui program ‘Generasi Remaja Berencana (GenRe) Goes to Pondok Pesantren’ BKKBN berhasil mensosialisasikan program KKB ke seluruh lapisan santri di Pondok Pesantren Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’yah Sukerojo Situbondo.

Plt Kepala BKKBN Pusat, Dr. Sudibyo Alimoeso, MA menyatakan, kegiatan GenRe Goes to Pondok Pesantren merupakan usaha BKKBN dalam melindungi remaja terhadap pernikahan dini dan resiko TRIAD KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja seperti Seksualitas, HIV/AIDS dan Napza). Selain itu juga meningkatkan akses remaja terhadap program GenRe terutama pada pondok pesantren.

”Kita ingin dengan kegiatan sosilisasi dan talkshow yang digelar pondok pesantren para remaja atau santri dapat mengerti bahaya TRIAD KRR,” ujarnya saat ditemui usai acara Talkshow dengan tema ‘GenRe Goes to Pondok Pesantren dalam Rangka Akselerasi Program PUP di Jatim’ di Pindok Pesantren Salafiyah Syafi’yah Sukerojo Situbondo, Sabtu (4/5) kemarin.

Kedepan Sudibyo berharap dengan diadakannya GenRe Goes to Pondok Pesantren dapat menjadi sarana dalam peningkatan rata-rata usia kawin pertama wanita. Menurutnya, dari data yang ada, menunjukkan masih banyak wanita di Indonesia yang melakukan perkawinan usia pertama dibawah umur 20 tahun.  ”Jika di rata-rata kurang lebih 30/1000 dari wanita usia dibawah 20 tahun melakukan perkawinan pertama, hal ini menunjukkan bahwa pernikahan di bawah umur masih banyak dilakukan,” jelasnya.

Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Djuwartini SKM MM menjelaskan, berdasarkan data evaluasi hasil pelaksanaan program KKB di Jatim pada Bulan Januari 2013 tercatat sebanyak 16,84 persen dari 18.792 pernikahan yang dilaporkan di Jatim terjadi pada wanita usia di bawah 20 tahun. ”Kita berharap dengan adanya data ini dapat menjadi evaluasi bagi BKKBN dan para stakeholder untuk bersama-sama mengawal keberhasilan peningkatan rata-rata usia kawin pertama wanita,” tuturnya.

Menurutnya, rendahnya usia perkawinan pertama menjadikan masalah tersediri bagi remaja, pemerintah dan masyarakat. Jika dilihat jumlah remaja di Indonesia jumlahnya kurang lebih 28 persen atau 64 juta dari total jumlah penduduk sebesar 237,6 juta jiwa (Sensus Penduduk, 2010, red). ‘’Jadi banyaknya jumlah remaja ini jika tidak dikendalikan akan berdampak negatif bagi negara dan sebaliknya jika dikendalikan akan berdampak positif bagi negara,’’ tegasnya.

Djuwartini menilai dengan program ‘GenRe Goes to Pondok Pesantren akan mempermudah pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama mengendalikan perilaku remaja di Jatim. Dengan program yang dirancang dari, oleh dan untuk ramaja ini diharapkan dapat mencetak generasi-generasi penerus bangsa ini yang labih baik dan berkualitas. ‘’Saya yakin jika jutaan remaja ini dibina dan diarahkan, maka pembangunan bangsa dan daerah ini akan cepat tercapai,’’ yakinnya dengan nada mantap ini.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’yah Sukerojo Situbondo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy mengungkapkan, dirinya menyambut baik langkah BKKBN dalam mensosialisasikan program GenRe di lingkungan pondok pesantren. Dengan sosialisasi program Genre dapat membuka wawasan para santri untuk lebih memahami kesehatan reproduksi remaja. ‘’Sebagai pengasuh (Generasi penerus, red) di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’yah Sukerojo Situbondo kita selalu mendukung penuh upaya BKKBN dalam mensukseskan program KKB di Indonesia,’’ terangnya.

Menurutnya, sejak tahun 1986 Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’yah Sukerojo Situbondo mempunyai peranan penting dalam mengawal program BKKBN dan yang terbaru adalah mengusulkan kepada MUI Pusat untuk menghalalkan vasektomi atau Medis Operasi Pria (MOP). ‘’Alhamdulillah usulan kita diterima sehingga BKKBN tidak perlu ragu lagi dalam mengajak masyarakat untuk ikut vasektomi,’’ jelasnya.

KHR Ahmad berpesan dengan jumlah santri yang mencapai 10.000 orang ini diharapkan dapat menjadi pioner dalam mengawal dan mensosialisasikan program GenRe di masyarakat. ‘’Saya optimis jika 10.000 santri ini dapat memberikan informasi dengan benar, maka akan berdampak positif terhadap ribuan bahkan ratusan ribu santri dan remaja lain di luar Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’yah Sukerojo Situbondo,’’ katanya. Dna.adv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *