2017-2019 Puncak Bonus Demografi

2017-2019 Puncak Bonus Demografi

Indonesia diperkirakan mencapai puncak ’bonus demografi’ pada  2017 sampai 2019. Artinya, komposisi jumlah penduduk dengan usia produktif 15-64 tahun mencapai titik maksimal, dibandingkan usia nonproduktif 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas. “Pada puncak bonus demografi itu proporsi penduduk usia produktif mencapai 55,5 persen,” kata Aswatini, dalam orasi pengukuhannnya sebagai profesor riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), baru-baru ini  di Jakarta.
Aswatini selaku Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI menyampaikan orasi berjudul, “Migrasi Tenaga Kerja Indonesia dalam Pasar Kerja Global”. Kepala LIPI Lukman Hakim menjadi Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset LIPI yang ke 91 tersebut. Menurut Aswatini, ada keuntungan ketika proporsi penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Jumlah penduduk yang menjadi tanggungan akan lebih sedikit, sehingga diharapkan terjadi kenaikan tabungan dari pendapatan golongan penduduk usia produktif.
“Bonus demografi menjadi sebuah keuntungan, jika penduduk usia produktif berkualitas. Tetapi, menjadi bencana ketika penduduk usia produktif dalam kondisi pendidikan rendah, keahlian rendah, serta kondisi kesehatan buruk, yang membuat tidak dapat berproduksi secara optimum,” katanya.
Sensus Penduduk tahun 2010 menunjukkan jumlah penduduk mencapai 237,6 juta orang. Indonesia merupakan negara nomor empat terbesar di dunia, setelah China, India, dan Amerika Serikat.
Untuk meraih keuntungan bonus demografi, ada empat prasyarat yang harus dipenuhi. Pertama, penduduk usia muda yang meledak jumlahnya itu harus mempunyai pekerjaan produktif dan bisa menabung. Penghitungan Badan Pusat Statistik bahwa seseorang dianggap bekerja bila bekerja satu jam seminggu tanpa putus. Kedua, tabungan rumah tangga dapat diinvestasikan untuk menciptakan lapangan kerja produktif. Ketiga, ada investasi untuk meningkatkan modal manusia agar dapat memanfaatkan momentum jendela di  peluang yang akan datang. Keempat, menciptakan lingkungan yang memungkinkan perempuan masuk pasar kerja.

Data Sakernas (Survei Angkatan Kerja Nasional) 2010 memperlihatkan, sampai 2015 profil angkatan kerja Indonesia masih didominasi pekerja berpendidikan SD. Setengah dari 40 juta orang angkatan kerja muda (usia 14-29 tahun) telah masuk dalam pasar kerja dengan pendidikan rendah dan tanpa keterampilan. Penelitian tahun 2007 terhadap subsektor industri manufaktur memperlihatkan, 20 persen pekerja diserap dalam pengoperasian mesin khusus dan umum, 15 persen sebagai prosesor, 15 persen sebagai pekerja biasa dan petugas kebersihan.Tenaga terampi dalam posisi pengelolaan kantor (manajerial) hanya 0,7 persen dan posisi profesional 0,6 persen (data mengacu pada Klasifikasi Baku Jenis Pekerjaan Indonesia).

Yang harus terus dilakukan adalah meningkatkan kualitas manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2011 di bawah angka rata-rata kelompok negara dengan IPM menengah di mana Indonesia berada. Artinya, meski Indonesia sudah berada di jalur tepat, usaha kita  masih harus ditingkatkan. Saran untuk perbaikan kualitas manusia, antara lain, pendidikan keterampilan hidup harus terus diberikan kepada pekerja dengan keterampilan rendah yang sudah masuk pasar kerja. Hal ini sangat penting agar ketika menjadi lansia, mereka tetap mandiri.

Perlu diketahui, dalam hitungan ekonomi nasional, penduduk usia muda 15-29 tahun yang bekerja adalah pendongkrak peningkatan pendapatan per kapita. Penduduk di usia ini menjadi bagian transisi demografi Indonesia karena perubahan struktur umur penduduk dan jenis kelamin akibat menurunnya angka kelahiran dan angka kematian bayi, serta meningkatnya usia harapan hidup terus-menerus dalam 30 tahun terakhir.

Meneropong Indonesia 2025, salah satu keuntungan negeri ini adalah bonus demografi (demographic dividend) karena perubahan struktur umur penduduk dan menurunnya rasio ketergantung berdasarkan umur (age dependency ratio), yaitu perbandingan antara jumlah penduduk anak-anak (di bawah usia 15 tahun) dan penduduk lansia (di atas 65 tahun) terhadap populasi usia kerja (15-64 tahun). Gambaran optimistis yang akan terwujud bila dan hanya bila pembangunan manusia berkualitas dilakukan sungguh-sungguh. (AT/Humas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *