4 Risiko Kegagalan KB

4 Risiko Kegagalan KB

4 Risiko Kegagalan KB Ayahbunda.co.id

Pengalaman para pemakai alat kontrasepsi atau peserta program Keluarga Berencana (KB) sangat bervariasi: ada yang kaget, bingung, mulus-mulus saja tanpa masalah sedikit pun! Apa yang mungkin terjadi setelah Anda memakai alat kontrasepsi? Siapa yang saja berisiko mengalami masalah, cara mencegah atau meminimalkan risiko? Anda perlu tahu sehingga Anda bisa menemukan metode kontrasepsi yang tepat, yang sesuai dengan riwayat kesehatan, perencanaan keluarga, dan gaya hidup Anda.

1.    Hamil alias gagal KB.  Tiga alasan memilih memakai kontrasepsi, yakni menunda kehamilan, menjarangkan kehamilan, dan mencegah kehamilan  atau tidak ingin hamil lagi karena merasa keluarga sudah lengkap. Jadi, bila terjadi kehamilan pada pengguna kontrasepsi maka, mungkin saja, cara pemakaiannya salah. Misalnya pil KB tidak diminum setiap hari. Anda  sebaiknya tak perlu segan berkonsultasi pada dokter atau bidan saat memilih metode kontrasepsi.

Atau, metode kontrasepsi yang dipakai tidak efektif untuk orang yang bersangkutan. Misalnya ibu yang menggunakan metode LAM (Lactational Amenorrhoe Methode) sudah mendapat haid. Ada 3 syarat yang harus dipenuhi bila ingin menggunakan metoda LAM, yaitu menyusui secara penuh siang dan malam, belum mendapat haid, dan bayinya belum berumur 6 bulan.Jika salah satu syarat tidak bisa dipenuhi, maka ibu yang bersangkutan sebaiknya sudah merencanakan penggunaan metode kontrasepsi lain.

2. Perdarahan. Perdarahan di luar masa haid mungkin saja dialami oleh pemakai metode kontrasepsi hormon, seperti pil atau suntik KB pada bulan-bulan pertama pemakaian. Selain itu, perdarahan dan nyeri bisa juga terjadi setelah pemasangan spiral. Bila perdarahan hanya berupa vlek-vlek atau sedikit, maka gejala ini tidak berbahaya. Namuh, bila perdarahan banyak atau hebat, apalagi bila disertai gejala lain seperti sakit kepala, mata berkunang-kunang, dan mual atau sakit perut, maka Anda sebaiknya segera berkonsultasi pada dokter.

3. Perubahan pola haid. Biasanya dialami oleh pengguna kontrasepsi yang mengandung hormon-hormon, baik pil, suntikan, atau spiral yang mengandung hormon. Gangguan haid ini karena hormon yang dipakai bisa mengganggu atau mengubah pola-pola haid yang biasanya. Pemakaian suntikan hormon biasanya semakin lama membuat haid cenderung sedikit atau tidak haid sama sekali. Namun pemakaian pil KB yang teratur justru bisa membuat haid yang tadinya tidak beraturan menjadi lebih teratur karena susunan hormon-hormon dalam pil KB dibuat mirip dengan naik turunnya atau komposisi  hormon sesuai pola haid.  Sementara pada pemakai spiral, masa haid dapat menjadi lebih panjang dan darahnya banyak, terutama pada bulan-bulan pertama pemakaiannya. Kondisi ini  normal. Namun bila Anda ragu, Anda dapat berkonsultasi pada dokter

4.    Alergi atau iritasi. Rasa panas dan gatal timbul di daerah sekitar kemaluan? Bisa jadi ini gejala Anda alergi terhadap alat kontrasepsi yang Anda gunakan. Meski jarang, reaksi alergi bisa terjadi terutama pada orang yang sensitif terhadap bahan-bahan yang terkandung dalam obat atau pun alat kontrasepsi yang digunakan. Misalnya, alergi kondom lateks yang menimbulkan iritasi pada dinding vagina, atau alergi terhadap zat aktif dalam tisu KB. Karena pemakaian kontrasepsi sifatnya jangka panjang  dan dipakai terus menerus maka, bila memang alergi, Anda sebaiknya memilih cara kontrasepsi lain. Tergantung bahan alat kontrasepsi apa yang membuat Anda alergi.

sumber : http://www.ayahbunda.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *