Cegah Kanker Serviks, Jangan Menikah Sebelum 20 Tahun

Cegah Kanker Serviks, Jangan Menikah Sebelum 20 Tahun

Anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) harus komit merawat dirinya sendiri, terutama preventif/pencegahan penyakit kanker serviks dengan melakukan papsmear secara rutin minimal setahun sekali, kalau bisa melakukan secara mandiri.  Pesan itu ditegaskan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur Dra Ny. Hj. Purmiasih Rasiyo, MM seuai melaksanakan kegiatan Papsmear di Yayasan Kanker Wisnuwardhana Jl Kayun no 16 – 18 Surabaya (15/11).

Menurut Isteri Sekda Provinsi Jatim ini, biasanya ibu-ibu kalau sudah ada keluhan sakit baru mendatangi dokter atau rumah sakit dan seringkali sudah stadium lanjut sehingga perlu biaya lebih besar, padahal jika dilakukan preventif biaya lebih murah. “Kalau ibu kondisinya sehat bisa merawat yang lain. Inilah salah satu manfaat berorganisasi. Dalam DWP kita bisa saling membantu, ada kepedulian terhadap lingkungan yang membutuhkan, tidak hanya kumpul-kumpul,” katanya.

Kegiatan Papsmear yang diikuti 60 orang anggota dan pengurus DWP Setda Prov Jatim ini merupakan realisasi dari program kerja Bidang Sosial Budaya DWP Setda Provinsi Jatim yang diselenggarakan dalam rangka HUT DWP ke 12 yang jatuh tanggal 7 Desember mendatang. “Inti kegiatan DWP adalah mengaktualisasikan hasil Rakernas DWP yaitu menindaklanjuti  kebutuhan anggota. Papsmear merupakan salah satu masalah dan kebutuhan ibu-ibu,” ujarnya.

Disamping itu, ada kegiatan donor darah, santunan pendidikan SD, SMP dan SMA untuk putra/putri pegawai yang membutuhkan, anjangsana dan memberikan bantuan untuk anggota dan keluarga DWP yang sakit. Begitu pula dengan Pasangan Usia Subur (PUS) juga diberikan alat  kontrasepsi gratis. “Dalam hal ini, DWP bekerja sama dengan BKKBN dan Dinkes agar isteri PNS bisa dilayani dengan baik,” tambahnya.

Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Jatim, lanjutnya, juga mengkoordinir Gerakan Perempuan Tanam Tebar Pelihara Pohon (GPTP) mengembangkan Pertanian Perkotaan. Dengan  meningkatkan ketrampilan keluarga untuk memanfaatkan pekarangan, melalui budidaya tanaman buah-buahan, sayur-sayuran, dan tanaman obat, yang digabung dengan ternak dan ikan).

Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan, kesehatan dan gizi keluarga, yang diharapkan dapat menunjang kebutuhan sehari-hari dalam rangka hidup sehat, murah dan mudah. Selain itu Pertanian Perkotaan memberikan kenyamanan hidup ditengah polusi udara dan menghadirkan nuansa estetika.

Secara nasional luas lahan pekarangan sekitar 10,3 juta Ha atau 14 % dari total luas lahan pertanian. Maka, lahan pekarangan sangat potensial untuk menanam bahan pangan, kesehatan, dan gizi keluarga/masyarakat. Sayang sekali lahan pekarangan sebagian besar masih belum dimanfaatkan dengan maksimal untuk area produksi pangan, ternak, ikan, dan lain-lain. Apalagi dengan semakin menyempitnya lahan produksi dan berkembangnya jumlah penduduk di perkotaan.

Saat ini sekitar 50 % jumlah penduduk dunia hidup di perkotaan, th. 2015 diperkirakan mencapai 800 juta orang yang memerlukan bahan makanan sekitar 6.600 ton setiap hari. “Melihat data tersebut, masalah ketersediaan pangan, kesehatan dan gizi akan banyak dihadapi oleh sebagian penduduk padat yang tinggal di perkotaan.

Ny Rasiyo yang sehari-hari berprofesi sebagai Pengawas Sekolah ini mengutarakan, pemanfaatan pekarangan dapat mendidik anggota keluarga/ masyarakatcinta lingkungan. “Jika lahan pekarangan dimanfaatkan secara intensif dan ramah lingkungan dapat memenuhi kebutuhan pangan, kesehatan melalui apotek hidup, dan gizi keluarga dan masyarakat. Sehingga menghemat pengeluaran dan meningkatkan incomekeluarga, yang akhirnya meningkatkan kesejahteraan,” tambahnya.

Sementara itu Ketua Yaysanan Kanker Wisnu Wardhana Prof Dr.dr.Roem W. Soedoko, SpPA (K) mengatakan, kaum wanita sangat penting memeriksakan diri rutin papsmear setahun sekali. Dari hasil penelitian kanker dunia yang berada di Inggris, Kanker serviks menggeser penyakit jantung dan pembuluh darah yang dulu merupakan penyakit penyebab kematian pertama. Sekarang kanker penyebab kematian pertama di dunia, dan 70 % ada di negara berkembang. Indonesia menempati nomor 1 di Dunia. Padahal  bisa disembuhkan atau dicegah dengan papsmear. Satu diantara 4 orang terkena kanker, satu  diantara 6 orang meninggal dunia terkena kanker, itu menjadi epidemi.Karena kaum wanita lebih mudah terserang kanker daripada pria yaitu 5 dibanding 3.

“Oleh karena itu kita harus menggalakkan ibu-ibu mencegah kanker mulut rahim melalui papsmear jika ada inveksi atau pra kanker bisa diobati. Dibiasakan periksa setiap tahun, lebih memelihara seluruh alat kelamin wanita, baik di luar, vagina sampai mulut rahim dibiasakan dengan perawatan. Lebih baik lagi tidak menjalin hubungan seksual/menikah sebelum usia 20 tahun, mempunyai anak tidak lebih dari 2 orang, higiene alat kelamin harus diperhatikan. Selain itu suami juga harus ‘ngopeni’ isteri, artinya jangan jajan dimana-mana membawa pulang virus sehigga isterinya terkena inveksi,” katanya.

Di abad 21 ini, lingkungan hidup yang rusak, kawin muda, kebiasaan merokok, menggunakan kosmetik yang mengandung hormon bisa menyebabkan kanker. Bagi wanita yang tidak menikah tidak dianjurkan untuk pap-smear. Pencegahan bisa dilakukan dengan vaksinasi di lengan, pencegahan untuk usia 15 -25 tahun. (AT).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *