Hubungan Persepsi Orangtua Dengan Perilaku Dan Sikap Anak

Hubungan Persepsi Orangtua Dengan Perilaku Dan Sikap Anak

Anda mungkin bertanya-tanya apa pengaruhnya persepsi saya terhadap perilaku anak? Bukankah anak sudah mempunyai karakteristik bawaan sendiri? Mengapa persepsi ini begitu penting? Mungkinkah persepsi tentang mendidik anak yang benar akan mempengaruhi karir dan bisnis saya?

            Baiklah mari kita lakukan analisis sederhana. Cara pandang atau persepsi kita tentang mendidik anak akan memengaruhi tindakan kita. Coba perhatikan contoh di depan tentang orangtua A,B ataupun C. menurut Anda apakah anak mereka akan mengalami perlakuan yang berbeda?

            Ya tentu saja. Anak dari orangtua A akan mengalami perlakuan yang berbeda dibanding dengan anak orangtua B ataupun C. semua ini adalah karena perbedaan persepsi atau cara pandang yang ada pada ketiga orangtua tersebut.

            Nah sekarang coba perhatikan bahwa sebenarnya anak hanyalah bereaksi terhadap tindakan, yang merupakan hasil pemikiran orangtuanya. Jika orangtuanya memperlakukannya dengan cara berbeda, si anak akan bereaksi atau menanggapi hal itu dengan cara berbeda pula.

            Reaksi anak terhadap tindakan orangtua inilah yang akan menghasilkan pola perilaku. Dan pola perilaku ini akan menghasilkan sebuah pembiasaan dan akhirnya menjadi sikap keseharian si anak. Jika ini dilanjutkan, terbentulah karakter anak tersebut.

            Apakah pengaruh karakter yang terbentuk yang terbentuk dari rentetan reaksi berantai ini terhadap masa depan anak? Karakter anak yang telah terbentuk karena simulasi dari tindakan orangtua ini akan menentukan sikap, Cara pikir dan keyakinan si anak terhadap hidup. Dan semua ini pada gilirannya akan menentukan nasib anak

“Seorang ibu membawa janin dalam perutnya selama sembilan bulan, seorang anak membawa kenangan perlakuan terhadap dirinya seumur hidup. Pastikan memberikan kenangan positif pada anak kita.” Ariesandi S

Pengaruh Persepsi yang Benar terhadap Karier dan Bisnis

Apakah Anda bisa tentang menjalankan karier dan bisnis jika Anda masih terus dirongrong masalah anak? Bisakah Anda tenang bekerja jika anak anda malas belajar? Atau ia tak punya semangat untuk melakukan apa pun? Atau mungkin ia seringkali membuat keributan karena tidak mudah menuruti nasihat Anda?

            Tujuan orangtua bekerja adalah demi kebahagiaan sang anak; atau agar dapat membiayai pendidikan anak; atau agar mampu menyenangkan anak. Tetapi apalah arti semua itu jika akhirnya anak tidak bahagia dengan dirinya sendiri dan menjadi bertingkah laku jelek karena kita tidak tahu cara berkomunikasi yang benar dengannya?

            Seringkali maksud baik orangtua ditangkap dan dimakna dengan salah oleh anak. Ini disebabkan banyak hal. Mungkin karena orangtua tidak mengerti cara komunikasi yang benar sesuai kepribadian anak; atau karena orangtua tidak memahami teknik motivasi yang benar; atau karena orangtua sendiri tidak memahami diri sendiri sehingga penuh konflik diri.

            Mengapa semua itu bisa terjadi? Setiap orang memiliki profesi yang berbeda-beda. Ada yang berprofesi sebagai guru, notaries, pengacara, dokter, akuntan, konsultan teknik, dan sebagainya. Mereka menempuh pendidikan profesi yang berjenjang. Mereka mendalami profesinya demi kemajuan karier.

            Namun demikian, ada satu profesi yang paling penting dan paling mulia yang belum ada pendidikannya. Profesi ini pasti dimiliki setiap orang yang telah memutuskan untuk menikah dan akhirnya memiliki anak. Profesi ini adalah “orangtua”. Profesi orangtua adalah profesi yang paling mulia dan paling banyak dijabat oleh manusia. Namun demikian, pendidikan yang berjenjang dan sistematis untuk profesi ini belum ada.

            Banyak orangtua yang mengalami kesulitan dan kebingungan menangani anaknya minta bantuan saya. Mereka datang dari latar belakang pendidikan dan profesi yang berbeda-beda. Masalah yang mereka hadapi memengaruhi kinerja profesional mereka. Bagaimana bisa tenang membangun bisnis dan karier jika dirongrong masalah anak?

            Banyak perusahaan memiliki staf dan karyawan yang tidak bisa optimal karena masih diributkan dengan masalah anak dan problem rumah tangga lainnya. Perusahaan hanya memberikan training tentang team work, melayani pelanggan dengan baik, meningkatkan motivasi karyawan, peningkatan keterampilan manajerial, dan berbagai hal teknis yang semua berhubungan dengan aspek bisnis atau produksi.

“Pendidikan untuk menjadi orangtua yang baik dan profesional dalam tugasnya adalah mata rantai yang hilang dalam pendidikan anak dan pembinaan perusahaan profesional di Indonesia.” Ariesandi S.

            Di Indonesia jarang sekali ada sebuah perusahaan memberi pelatihan profesional bagi sifatnya untuk menjadi orang tua yang baik di rumah. Padahal keterampilan ini sangat penting artinya. Karyawan akan merasa di perhatikan secara pribadi dan efek sampingannya bisa jadi adalah peningkatan kinerja luar biasa di kantor. Pendidikan untuk menjadi orang tua yang baik dan profesional adalah mata rantai yang hilang dalam pendidikan anak dan pembinaan perusahaan profesional di Indonesia.

            Bagaimana jika kita adalah seorang pengusaha atau memiliki bisnis sendiri? Sama saja, bahkan kita di tuntut untuk memiliki pengetahuan yang lebih dalam lagi tentang cara mendidik anak sehingga bisa mempersiapkan mereka dengan bijaksana untuk meneruskan apa yang sudah di rintis.

            Banyak sekali pemilik bisnis mandiri yang merintis bisnisnya dengan susah payah akhir berakhirnya ketika mereka meninggal. Anak-anak mereka tidak siap untuk meneruskan atau bahkan tidak berminat. Atau jika anak mereka meneruskan usaha orang tuanya, tidak jarang bisnis itu merosot bahkan akhirnya hancur.

            Akhirnya misi mulia orang tua yang bekerja demi anaknya banyak yang tidak tercapai atau tercapai setengahnya. Dengan demikian, karena pengetahuan tentang mendidik dan mengasuh anak di rumah sangat penting dan memiliki pengaruh besar terhadap kemajuan karir dan bisnib kita, sudah selayaknya orang tua benar-benar mempersiapkan dirinya untuk menjalani profesi tersebut.

            Kita tidak bisa hanya meminta anak untuk memepersiapkan diri dengan baik menyongsong masa depannya. Kita sudah menginvestasikan banyak uang untuk pendidikan anak, memintanya mengikuti kursus agar anak berprestasi di sekolah tapi kita sendiri tidak pernah menginvestasikan uang untuk mendidik diri sendiri, yakni mendidik diri kita ntuk dapat lebih mudah memahami anak-anak kita.

            Mengapa begitu? Dengan pengetahuan yang dalam tentang anak, kita akan dengan mudah memberikan nasehat bijaksana pada mereka untuk mengembangkan potensi terpendamnya. Kita akan mampu mengarahkan mereka dan memotivasi mereka sehingga mereka akan bertindak dengan senang hati dan selalu dalam keadaan bahagia.

Untuk Direnungkan

Jelaslah sudah presepsi adalah kunci perubahan banyak sekali klien saya berhasil mengatasi masalah anaknya dengan cara mengubah presepsi atau cara pandang mereka sendiri terhadap anak. Saya membantu mereka mengahadapi melihat masalah anaknya dari sudut pandang yang lain. Dan ketika mereka melakukannya, anak mereka berubah tanpa perlu di terapi.

            Mengapa bisa  begitu? Ketika presepsi kita berubah, tindakan kita berubah. Ketika tindakan kita berubah, reaksi anak akan berubah. Dan ketika reaksi anak berubah, mulai terbentuk suatu pola baru. Jika kita mengulang terus tindakan kita, si anak juga akan mengulang reaksi yang sama. Pengulangan dari kedua pihak ini akhirnya membentuk kebiasaan baru dalam diri anak dan menetap menjadi karakternya.

            Jadi, tugas kita sekarang sebagai orang tua adalah mencari dan menemukan presepsi kita tentang anak. Tentang pendidikannya, tentang bagaimana harus melakukannya, dan tentang bagaimana kita harus memperlakukan pasangan di depan anak-anak.

TIPE ORANGTUA

Seorang ibu menelpon saya bermaksud untuk minta waktu berkonsultasi. Saya menanyakan masalh apa yang dihadapinya. Ia menjawab bahwa anaknya sangat benci sekolah dan sangat sulit mematuhi perintahnya. Yang membuat saya kaget adalah anaknya berusia 4 tahun. Ia berharap saya bisa membantunya mengatasi hal ini dengan kemampuan terapi saya.

            Saya mengatakan bahwa saya bisa membantunya asalkan kedua ornagtua juga turut mau berpatisipasi dan ambil bagian secara aktif dalam proses terapi. Saya mensyaratkan keduanya datang pada saat sesi terapi.

            Singkat cerita ibu tersebut menyanggupi untuk mengajak suaminya. Padahal hari yang telah disepakati kami bertemu. Pada sesi wawancara saya mendapati bahwa ternyata kedua orangtua ini menginginkan saya melakukan terapi hanya pada anaknya. Mereka seolah-olah menyalakan si anak atas semua hal yang terjadi.

“Tidak ada suatu akibat tanpa sebab. Setiap permasalahan anak bermula dari sikap dan cara pandang ornagtua yang tidak tepat…..” Ariesandi S

Mereka tidak menyadari bahwa karena tindakan orangtualah si anak menjadi seperti ini. Tidak ada suatu akibat tanpa sebab. Setiap permasalahan anak bermula dari sikap dan cara pandang orangtua yang tidak tepat dan kemudian berkembang menjadi semakin rumit sejalan dengan waktu dan simulasi lingkungan.

Kembali pada kasus diatas, orangtua menginginkan saya melakukan terapi pada anaknya agar kasusnya segera selesai. Saya hanya bisa mengatakan bahwa saya tidak mau melakukan hal itu. Perubahan yang baik adalah perubahan yang dimulai dari kesadaran diri si klien. Saya mengatakan pada suami istri tersebut bahwa mereka juga harus mengubah diri. Karena merekalah penyebab semua ini.

Sikap dan perilaku anak yang bermasalah adalah akibat dari sikap dan perilaku orangtua. Jika kita ingin mengatasi akibatnya penyebanya juga harus diselesaikan. Jika tidak, kemungkinan besar masalah itu akan terulang lagi.

Namun demikian, di lain waktu saya mendapati juga orangtua yang sangat peduli dengan anaknya. Mereka berdua datang dan mau merubah pendekatan mereka pada anaknya. Orangtua seperti inilah yang akhirnya berhasil membantu anaknya keluar dari permasalahannya. Mereka juga berhasil membantu diri mereka sendiri untuk naik ke tingkat kesadaran yang tinggi lagi.

 

Tipe Orangtua

Melalui pengalaman yang cukup panjang, sejak 1995, bekerja sama dengan orangtua dan anak-anaknya,saya menyadari adanya 3 tipe orangtua berdasarkan cara mereka menghadapi masalah anak-anaknya.

            Ketiga tipe orangtua ini muncul karena perbedaan cara pandang atau persepsi mereka terhadap masalah anak. Bisa dikatakan tidak ada yang benar ataupun salah dalam hal ini. Bahkan, dari ketiganya tidak ada yang lebih baik.

            Yang ada adalah kecocokan kita dengan cara pandang tersebut dan hasil seperti apa yang kita inginkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika yang kita inginkan berbeda dari kenyataannya, itulah saatnya harus memperbaiki persepsi atau cara pandang.

            Selain itu, yang perlu kita sadari adalah bahwa cara pandang ini juga terbentuk karena pengalaman dan situasi lingkungan serta kondisi yang kita alami. Kita cenderung mengikuti suasana hati kita atau situasi luar yang mendekte tindakan kita. Kita hanya bereaksi terhadap situasi yang tersaji dengan manis di depan kita,.

            Akhirnya seringkali anak hanya menjadi sarana untuk menumpahkan emosi. Atau bisa juga anak menjadi lahan percobaan ide-ide baru yang sepotong-potong. Asalkan ide-ide itu bagus, kita comot.

            Berdasarkan pengamatan, sampai sejauh ini terhadap 3 tipe orangtua yang saya bisa kenali. Yang pertama adalah tipe pencegah masalah, yang kedua adalah tipe pencari solusi, dan yang ketiga adalah tipe orangtua yang tahunya beres.

Orangtua Tipe 1: Pencegah Masalah

Mungkin Anda berpikir inilah tipe ideal karena memang biasanya orangtua pencegah masalah suka belajar. Tapi tunggu dulu. Ada 2 jenis masalah yang bisa timbul, yakni masalah positif dan masalah negatif. Jika yang dicegah masalah negatif, tidak jadi masalah. Contoh dari masalah negatif adalah anak yang kurang percaya diri, anak yang tidak punya motivasi , anak yang suka memasakan kehendaknya, dan lain sebagainya.

            Pada titik ekstrem orang tua pencegah masalah negatif bisa jadi protektif dan akhirnya malah menjadi pencegah masalah positif. Contoh masalah positif adalah percaya diri,kemandirian,rasa ingin tau,dan mau berkemauan untuk berkerjasama.

            Disinilah diperlukan kesadaran diri untuk menentukan titik imbang. Disinilah terletak seni bermain laying-layang,tarik ulur.kita perlu menetahui kapan kita harus menarik benang laying-layang kita dan pada lain kesempatan kita juga perlu mengulurnya.

            Kapan kita harus mengubah pendekatan kita?kapan titiuk imbang kita?mudah sekali!perhatikan saat anak anda bersikap lain dari biasanya ketika seorang anak yang tadinya baik dan menurut pada orang tua tiba tiba jadi pembangkang atau bersifat nakal sering kali orang tua bingung apa sedang terjadi.

            Ya itulah saatnya kita harus menyesuaikan diri.itulah saatnya menetapkan. Titk imbang yang baru. Apa yang biasanya disebut sebagai”masalah negatif” itulah sebenarnya tanda dari anak anak. Anak-anak bermaksud mengatakan kepada kita bawha titik imbang sudah harus disesuaikan. Misalnya orang anak laki laki yang bersikap kasar,nakal dan ksar,suka membentak dan marah marah misanya, disekolah maupun di rumah supaya mendapat perhatian lebih dari papa yang tenggelam dalam lautan kesibukan mencari uang.

            Kita bisa mengatakan,”mama mengerti perasaanmu dan keiinginanmu umtuk bermain di luar saat hujan saat ini lain kali pada saat yang tepat mama akan ajak kamu berhujan hujan. Tidak untuk saat ini karena badanmun dalam kondisi kurang baik. Bagaimana mama Bantu kamu mencari sesuatu yang sangat asyik dan kita mainkan bersama-sama?”

            Disini kita berperan mencegah maslah negatif dan mengarahkan anak untuk sesuatu yang positif,yaitu sifat demokratis,kontrol diri,dan empati.

            Akan berbeda halnya jika kita mengatakan,”pokoknya kamu tidak boleh bermain diluar saat hujan seperi ini.mama tidak suka kamu bantah!mengerti!”disini kita mencegah masalah negatif sekaligus masalah positif.

            Masalah positif apa yang kita batasi untuk tumbuh?ketika anak diperluakn  seperti ini,pada kesempatan lain dy tidak berani mengungkapkan pendapatnya.karena orang tua bersikap otoriter,dy akan menjadi anak”penurut”yang tidak berani mengungkapkan idenya.pengalamannya membuktikan bahwa orang tuanya bisa saja meledak dan ia tidak tahu kapan bisa terjadi. Jadi, lebih baik ia diam saja supaya tidak beresiko mendapat “ledakan” emosi orang tuanya. Dan ada lebih banyak resiko dari sikap dan perkataan orang tua seperti ini. Kita akan membahas masalah ini lebih dalam pada bab tentang tangki cinta dan disiplin.

Orangtua Tipe 2: Pencari Solusi

Kategori ini bisa dipecah jadi dua jenis. Yang pertama, orangtua pencari solusi unuk mencegah timbulnya masalah negatif. Misalnya, sekarang anaknya berusia 2 tahun. Ia membayangkan bagaimana ketika nanti anaknya berusia 4 tahun dan mulai belajar membaca dan menulis. Apa yang harus ia siapkan agar anaknya bisa lancar melewati fase itu?

            Jenis yang kedua adalah orangtua pencari solusi untuk mengatasi masalah negatif yang telah terjadi, orangtua seperti inilah yang biasanya muncul di ruang konsultasi saya. Mereka merasa telah melakukan semuanya tetapi mengapa sikap dan perilaku anaknya tidak seperti yang  diharapkan.

            Mereka merasa telah mencintai anaknya tetapi mengapa anaknya tetap berperilaku buruk. Mereka kehilangan akal sehat. Mereka membentak, memukul, dan berteriak pada anaknya padahal dalam hati mereka menyesal melakukan hal tersebut.

             Mereka ingin menjerit karena kebingungan tetapi nanti anaknya akan merasa tersaingi. Dan ……. Ketika mereka tak tahan dan menjerit juga, anaknya yang bingung dan dalam hati mungkin bertanya, “Mamaku/papaku saja bingung dengan diri mereka bisa menangani aku yang imut dan tak berdosa ini, ya?”

            Itulah gambaran orangtua yang sering datang menemui saya. Ada juga yang datang dengan perasaan menyesal dan berdosa. Mereka menyesali mengapa merasa dulunya terlalu sibuk mengejar karir dan membangun bisnis. Mereka mengabaikan perasaan anaknya. Secara tidak sengaja mereka menekan perasaan anaknya. Dan pada suatu saat si anak tidak kuat  menahan beban emosi tersebut. Terjadilah ledakan yang terlihat melalui penyimpangan perilaku atau penyimpangan karakter.

             Beberapa tanda penyimpangan adalah sikap malas, keras kepala, mudah tersinggung, suka menuntut, tidak bisa bersosialisasi dengan mudah, dan merasa tidak layak untuk sukses.

Orangtua Tipe 3: Tahu Beres

Berikutnya adalah orangtua yang maunya “tahu beres”. Kemungkinan mereka tidak akan membaca buku ini. Orangtua yang tahu beres ini juga banyak yang datang ke klinik terapi saya. Mereka membawa anaknya ke tempat saya layaknya membawa kain ke tukang jahit. Apa yang mereka inginkan adalah: datang ke tempat terapi, menyerahkan anak untuk di terapi, keluar dari ruang terapi dan permasalahan selesai.

            Orangtua yang tahu beres ini sering mengirimkan ke tempat kursus ataupun sekolah dengan harapan bahwa dengan uang yang telah dibayarkan anaknya akan pulang kerumah dalam kondisi sempurna.

            Apapun yang terjadi orangtua tahu beres ini mungkin benar. Paling tidak menurut mereka sendiri. Risiko yang ada dibalik tindakannya tetap ada mengingat hukum sebab akibat bekerja dengan sempurna.

            Inilah risiko yang mungkin terjadi di balik sikap orangtua yang tahu beres:

  • q Anak kehilangan figur dalam diri orangtua
  • q Respek berkurang
  • q Suka membantah
  • q Ada bahaya laten ketika sudah bisa mandiri nasihat orangtua cenderung diabaikan

Orangtua yang tahu beres ini perlu menyeimbangkan sikapnya. Keterlibatan yang cukup intens dengan kegiatan anak sangat diperlukan untuk mengimbangi pandangan anak terhadap pola asuh yang mereka terima.

            Hal terbaik yang bisa kita harapkan dari pola asuh orangtua tahu beres ini adalah kemandirian anak. Namun, semuanya dengan catatan bahwa orangtua perlu bekerja ekstra keras agar risiko negatif di atas bisa dinetralisasi.

Meningkatkan Kontrol Diri

Dengan pemahaman di atas, siapakah kita memetik hal terbaik dalam setiap tipe? Menjadi orangtua adalah tugas nan mulia maha berat. Tantangannya datang dari berbagai arah mata angin.

                Dalam dunia yang makin penuh tekanan ini, satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan kontrol diri.

Meningkatnya kontrol diri akan memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan penangan.

            Cobalah berdiskusi dengan pasangan sesering mungkin. Jika memungkinkan bentuklah perkumpulan sesama orang tua untuk mendiskusikan berbagai permasalahan anak dan pasangan. Jika ada mentor yang bisa membimbing perkumpulan ini, hasilnya akan lebih terasa.

            Semakin luas wawasan yang kita miliki, semakin mudahlah kita meningkatkan kontol diri. Dengan begitu, tugas mulia kita mendidik generasi penerus akan berjalan dengan mulus.

 

Anakku: Guru Terhebat

Suatu sore sepulang dari kantor saya menjumpai anak saya di ruang bermain sedang mencari-cari sesuatu, dan begitu melihat saya datang Fio kegirangan. “Pa, bantuin cari roda mobilnya Koko yang lepas!”

            “Oke, sebentar Papa ganti baju dan cuci tangan dulu ya!” Setelah saya berganti baju dan cuci tangan dan kaki, saya menjumapinya di ruangan bermain. Ia masih melongok ke berbagai sudut dan kolong lemari mainannya. Wajahnya sedih sekali dan tampak tak bersemangat. Sebelumnya saya sedang merasa capek sekali. Inginya sih saya duduk dan minum jus avokad.

            Setelah itu tak berapa lama saya menyadari saya sudah berada di kolong kursi dan lemari, mencari-cari benda “tak berharga” itu. Fio sangat ingin saya menemukannya. Saya mulai menggeledah bantalan kursi, kotak mainan yang baru saja dipakainya, bagian belakang lemari mainannya dan berbagai sudut ruangan. Saya mendadak menjadi budak yang patuh bergerak kerepotan di antara tempat yang bagi saya asing dan berdebu.

            Fio menguntit saya dengan gelisah sambil terus menggerutu, “Hmmm ke mana sih?” kemudian mulai memberikan saran-saran yang semakin membingungkan saya.

            Selama pencarian banyak pikiran berseliweran di kepala saya. Tiba-tiba beberapa jenis pikiran memuncak, “Sedang apa saya ini, mengaduk-aduk ruangan dan lemari dekil mencari sebuah roda mainan konyol yang tak berharga. Bagaimana mungkin saya bisa merunduk begini rendah? Mengapa saya menuruti keinginannya yang begitu mendadak?”

            Saya menyadari semenjak kelahiran anak pertama saya, kehidupan berubah total. Berapa banyak waktu saya tersita oleh kegiatan konyol dan melelahkan seperti ini. Kadang saya merasa menjadi tawanan seorang penguasa kecil yang gila. Seperti kata, siapa itu ya, psikiater inggris yang mengatakan bahwa keluarga adalah sebuah tungku penempatan kegilaan. Ugh, masa bodoh mengingat itu semua.

            Tiba-tiba suasana hati saya berubah. Entah kenapa beberapa hal kecil yang seolah tampak bertentangan berseliweran dalam pikiran saya membuat saya menjadi lebih sadar. Di saat saya merunduk rendah seperti ini, saya merasakan semangat saya tiba-tiba membubung. Hanya dengan membantu seorang anak, saya merasa jauh lebih terbuka. Bagaimanapun ada bagusnya juga saya bergeser dari sebuah dunia hebat tempat semuanya jelas beralasan ke sebuah ruangan suram tempat bersembunyinya bagian-bagian kecil tak berharga yng terlupakan. “Hai Ariesandi, siapa kamu? Bukankah  masih ada sosok anak-anak dalam dirimi? Bukankah selama ini kamu punya prinsip bahwa kita bisa belajar di tempat manapun juga dan dari siapapun juga dalam situasi apapun juga?” demikian sebuah kesadaran yang muncul mengagetkan saya. Saya pun menarik napas panjang, menatap mata Fio yang polos, mengendorkan keseriusan saya dan kemudian dengan bersemangat mengatakan, “Papa akan carikan sampai ketemu, oke?” Dan saya pun melihat kelegaan menyelimuti dirinya. Seolah tahu bahwa ia mempunyai tempat berlindung yang tepat dan bahwa dirinya akan selalu aman bersama dengan orangtuanya.

            Tak berapa lama saya berhasil menemukan roda mungil itu! Ohhhhh, senangnya. Saya pun teringat film Dora, seketika terngiang suara Fio menyanyi menirukan lagu Dora sambil berjingkrak di depan film kesayangan itu, “Berhasil, berhasil, berhasil, horeee!”

            Fio pun segera memasang roda itu dan mobil-mobilan tersebut kembali utuh.

            Saya pun termangu melihat dia serius menatap mobil-mobilan itu. Saya mengingat kembali momen-momen kecil seperti ini. Tak seberapa hebat sih, tapi kalau dikumpulkan koleksi saya banyak juga.

            Tentu saja, sebelum menjadi orangtua saya punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Saya bisa membaca, menulis, berpikir, dan menikmati musik sambil meditasi tanpa gangguan. Meningkatkan kesadaran diri di atas dunia personalsaya yang kecil.

            Sekarang ini, sebaliknya, saya mencari-cari roda kecil konyol, memasang isolasi pada mobil-mobilan yang retak, melekatkan stiker pada mobil balap kecil dan berbagai kegiata yang tampaknya hanya buang-buang waktu. Di penghujung hari saya  merasa sangat lelah.

            Tapi hidup saya jadi terasa lebih bermakna dan lebih kaya dibandingkan sebelumnya. Saya jadi mengerti bahwa setiap momen dalam kehidupan sebagai orangtua, betapa pun menjengkelkannya dan sepelenya, berisikan kejutan-kejutan tersembunyi serta banyak kesempatan untuk meningkatkan diri menuju cahaya kebijakan yang lebih baik.

            Hidup bersama anak-anak kita memperkaya dan mengubah kepribadian kita menjadi lebih baik, asalkan kita mau menggunakan kesempatan itu. Rasa-rasanya sperti belajar di sebuah kursus super intensif yang mengajarkan semua pengalaman besar dalam kehidupan, yang memberi kita pemahaman lebih kental dan perhatian lebih tajam pada keindahan, cinta, kepolosan, permainan, derita dan maut, kesabaran, kebenaran, identitas, rasa syukur, masa lalu, kecerdasan, pengajaran, keleluasaan dan masih banyak lagi.

Terima kasih anak-anakku, Fio, Aldo, dan Rio.

Sumber: Rahasia Mendidik Anak Agar  Sukses dan Bahagia (Ariesandi S, CHt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *