Investing in Young People: Peluang & Tantangan

Investing in Young People: Peluang & Tantangan

“On this World Population Day, I call on all with influence to prioritize youth in development plans, strengthen partnerships with youth-led organizations, and involve young people in all decisions that affect them. By empowering today’s youth, we will lay the groundwork for a more sustainable future for generations to come” (Secretary-General Ban Ki-moon, Message for World Population Day , 11 July 2014)
Investing in Young People  menjadi tema Hari Kependudukan Dunia 2014. Penduduk muda yang dimaksudkan adalah mereka yang  berusia antara 10-24 tahun.  Di mana di  dunia  ini sekarang terdapat sekitar 1,8 milyar penduduk usia 10-24 tahun. Pemuda menjadi tema  hari kependudukan mengingat jumlah mereka yang besar dan mempunyai peran besar di masa depan.

Demikian disampaikan oleh Dr. Sonny Harry B. Harmadi Kepala Lembaga Demografi FEUI/Ketua Umum Koalisi Kependudukan dalam seminar yang diadakan oleh Perwakilan BKKBN Prov. Jatim di hotel Garden Palace Surabaya, 26 Agustus 2014. Seminar dihadiri oleh Deputi KS PK Dr. Sudibyo Alimoeso, Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, para kepala SKPD Kab. Kota,  Anggota Kolasisi Kependudukan se Jatim, IPADI Jatim dll. Seminar dirangkai dengan acara Rakerda Koalisi Kependudukan Jatim dan Telaah Program KKB dan PK.
Dijelaskan,  Investing in young people maknanya mempromosikan kebiasaan hidup sehat, memastikan pendidikan dapat diperoleh, kesempatan kerja, akses ke fasilitas kesehatan, dan adanya perlindungan sosial bagi generasi muda

Menurut Dr. Sonny tidak ada satupun negara yang dapat menunda investing in young people ini karena umur terus bertambah. Negara harus membantu mereka keluar dari kemiskinan dengan menciptakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Yang menjadi permasalahan adalah jumlah young people sangat besar dan intervensi bagi mereka berdampak seumur hidup bagi mereka. Itulah sebabnya Young people menjadi sentral dalam pencapaian MDGs. Pengaruh jumlah young people menyebabkan banyak negara mengalami transisi demografi yang berdampak terhadap munculnya potensi bonus demografi.

Masih menurut Dr. Sonny para muda rentan terhadap eksploitasi dari penduduk dewasa. Mereka rentan  karena belum mapan dan labil. Masih bergantung pada keluarga. Rentan terhadap berbagai penyakit menular dan masalah kesehatan reproduksi.

Umtuk membangun para muda agar memiliki daya saing,  harus dipahami dulu apa itu daya saing. Yakni kemampuan suatu negara untuk menghasilkan barang dan jasa dengan standar kualitas tertentu dengan harga bersaing dan memberikan manfaat pengembalian yang baik bagi sumberdaya yang digunakan. Kemampuan untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih baik dibanding negara lain. Kemampuan suatu negara untuk menghasilkan barang dan jasa dengan standar kualitas tertentu dengan harga bersaing dan memberikan manfaat pengembalian yang baik bagi sumberdaya yang digunakan. Kemampuan untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih baik dibanding negara lain. Produktivitas berbagai input yang digunakan seperti tenaga kerja, modal, dan bahan baku/ material. Sekumpulan institusi, kebijakan, dan faktor produksi yang menentukan tingkat produktivitas dari sebuah negara.  Value for money bukan the cheapest price.
”Komposisi umur pemuda di Indonesia ada  62 juta  atau 26 persen dari  total penduduk 237,641,326” ujar Dr. Sonny. Untuk mengantarkan pemuda maju wahana keluarga sangat penting. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.

Ditambahkan, pembangunan keluarga adalah upaya mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang sehat.Keluarga berkualitas adalah keluarga yang dibentuk  berdasarkan perkawinan yang sah dan bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal,  berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keluarga penting menjadi wahana pertama dan utama dalam pemenuhan segala hak anak.

Dalam membantu keluarga membimbing putra putrinya benar kalau ada berbagai kegiatan seperti Bina keluarga balita yang memiliki  kegiatan khusus mengelola tentang  pembinaan tumbuh kembang anak melalui pola asuh yang benar berdasarkan kelompok umur, yang dilaksanakan oleh sejumlah kader dan berada di tingkat RW. Di Indonesia ada sekitar  62 juta keluarga. (AT). ***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *