Ketahanan Keluarga Kuat, Cegah Kenakalan Remaja

Ketahanan Keluarga Kuat, Cegah Kenakalan Remaja

JAKARTA,  Bkkbn Online – Program generasi berencana (Genre) yang digencarkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menjadi salah satu memperkuat ketahanan keluarga. Program Genre diarahkan dalam tiga hal atau disebut Triad Kesehatan Reproduksi  Remaja (Triad KRR) yaitu hindari seks bebas, jauhi napza, dan hindari penularan HIV/AIDS.

Terkait kejadian tawuran pelajar yang belakangan ini marak dan bahkan sampai menewaskan pelajar, menurut Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Dr Sudibyo Alimoeso, harus menjadi perhatian semua pihak.  “Konsep ketahanan keluarga diantaranya ya dapat mencegah anak-anak jangan sampai tawuran dan melakukan kegiatan destruktif,” kata Sudibyo kepada Pelita, di Jakarta, Senin (1/10/2012).

Soal kenakalan remaja, pihak keluarga menjadi faktor paling penting sebagai pengendali anggota keluarganya. Keluarga adalah wadah utama dan pertama sebagai tempat pembentukan karakter manusia. Kedua, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat juga ikut mempengaruhi karakter remaja.

Menurut Sudibyo, anak-anak perlu mendapat perhatian dari orangtuanya dan masa yang paling rawan adalah masa remaja, dimana masa itu adalah masa peralihan dari anak-anak menjadi manusia dewasa yang mempunyai jatidiri.  Sehingga keluarga diharapkan dapat menjadi tempat curahan hatinya tentang berbagai masalah.

Jika di lingkungan keluarga tidak bisa terpenuhi, di lingkungan sekolah, idealnya guru bisa menjadi tempat curhat. “Sudah saatnya, guru bisa menjadi teman bagi siswanya. Dengan begitu guru juga lebih mudah memantau anak didiknya. Jadi, sekolah bukan sekedar menimba ilmu biasa saja, tetapi dapat membentuk karakter yang baik bagi anak didiknya,” kata Sudibyo.

Lingkungan di masyarakat juga sangat mempengaruhi. Misalnya, para remaja perlu penyaluran energinya. Untuk itu, mereka perlu fasilitas ruang sebagai tempat berkreasi dan menggali potensinya. Namun Sudibyo sangat menyayangkan, fasilitas untuk berkreasi di kota besar seperti Jakarta harus dijangkau dengan biaya yang tidak murah.

“Seharusnya, fasos fasum seperti di perumahan-perumahan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan para remaja, bisa olah raga atau kegiatan lainnya. Agar sel-sel otaknya tumbuh energi untuk membangun bukan merusak,” kata Sudibyo.

Memberitaan media mengenati tawuran atau kenakalan remaja, menurut Sudibyo, sebaiknya tidak hanya sepenggal saat para pelajar itu tawuran saja, tetapi bagaimana sanksi atau hukuman yang diberikan kepada pelakunya. “Misalnya, pelajar yang tawuran itu digunduli rambutnya, atau disuruh push up, ya tetapi itu kan sudah ada peraturanperundangannya ya, tetapi untuk media televisi, hal ini sangat berpengaruh kepada penontonnya, karena orang Indonesia itu masih senang melihat atau watching society, dan mudah meniru apa yang dilihat, ini bahaya bagi pelajar lainnya karena dapat meniru.” ujarnya.(kkb2)

Sumber : http://www.bkkbn.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *