Ketua Peguyuban KB Pria Kec. Pakal, Rela Perlihatkan Bekas Luka kepada Istri Calon Peserta Vasektomi

Ketua Peguyuban KB Pria Kec. Pakal, Rela Perlihatkan Bekas Luka kepada Istri Calon Peserta Vasektomi

Suksesnya program vasektomi di Kecamatan Pakal tak lepas dari Peran Paguyuban KB Pria Siwalan Mesra. Dimotori Suharto Ahmad, Paguyuban tersebut bekerja keras mengampanyekan salah satu jenis KB untuk pria itu. Termasuk, ikhlas menunjukkan bekas luka prosedur vasektomi kepada calon pasien.

Sekitar pukul 06.00 Kami lalu (19/1) Suharto Ahmad sudah datang ke Kantor Kecamatan Pakal. Pria 47 tahun itu menata meja dan kursi di pendapa kecamatan dengan dibantui anggota Paguyuban KB Pria Siwalan Mesra dan PLKB Kecamatan Pakal. Setelah beberapa saat,ruang pendapa rapi.

Ruang itu disediakan untuk para undangan yang akan mengikuti operasi vasektomi. Sekitar pukul 07.00 para undangan datang. Suharto mempersilahkan mereka duduk di kursi yang sudah disediakan. Semakin siang peserta vasektomi yang datang bertambah banyak. Total ada 24 pria yang datang. Selain mempersilahkan duduk, Suharto meminta mereka mengisi daftar hadir.

Ayah lima anak itu juga memberikan selebaran berwarna kuning kapada mereka yang hadir. Selebaran tersebut berisi berbagai hal tentang vasektomi. Bahkan terdapat gambaryang memperlihatkan tahap operasi vasektomi. “Itu bisa dibaca sebelum ikut vasektomi,” ucap dia kepada salah seorang peserta.

Suharto juga memberikan semangat kepada beberapa peserta yang tampak masih gelisah. Dia menjelaskan bahwa operasi itu tidak sakit. Bekas operasi pun sangat kecil. Mereka yang mendengar penjelasan Suharto mengangguk, tanda paham. Maklum mereka belum tahu secar detil tentang vasektomi. “Ya Cuma ngerti sedikit,” ujar Wariyo, seorang peserta saat ditemui di sela-sela kegiatan tersebut.

Suharto kemudian mendampingi Ketua Tim Pelayanan Medis Vasektomi Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur dr. Sofyan Rizalanda dan Camat Pakal Eddy Christijanto beserta MUSPIKA setempat guna memberikan pengarahan tentang vasektomi. Peserta yang datang pun semakin mempunyai cukup mendalam tentang vasektomi.

Setelah pengarahan, Suharto meminta para peserta antre operasi. Ada empat dokter yang bersiap dalam bus mini milik BKKBN yang dijadikan ruang operasi. Suharto juga mengingatkan peserta yang belummencukur rambut kemaluan. “Harus dicukur dulu agar tidak infeksi,” tuturnya kepada para peserta yang duduk mengantre.

Beberapa diantara mereka pun berdiri dan meminta ditunjukkan tempat untuk mencukur rambut kemaluan. Panitia operasi sudah menyediakan alat cukur bagi yang hendak mencukur rambut bawah itu.  Yang sudah mencukur rambut kemaluan dipersilahkan masuk ruang operasi. Beberapa peserta tampak kaget karena tidak seluruh dokternya pria. Ada seorang dokter perempuan. “Saya tidak menyangka bahwa dokternya perempuan,” ujar Karisun, lalu terbahak.

Suhartu juga mengarahkan peserta yang selesai operasi untuk mengambil obat dan kondom. Puluhan kondom itu diberikan kepada setiap peserta. Kondom tersebut harus digunakan setelah operasi yaitu selama 20 kali ejakulasi. Kalau sebelum 20 kali ejakulasi mereka tidak menggunakan kondom saat berhubungan intim, diprediksi vasektomi akan gagal. Istri mereka pun diperkirakan akan hamil.

Sebenarnya, papar Suharto, operasi itu sangat ringan dan tidak berdampak pada kesehatan yang dioperasi. Namun banyak yang masih enggan mengikuti vasektomi. Menurut dia, mendatangkan 24 pria untuk mengikuti vasektomi tidaklah mudah. Dia dan anggota peguyuban KB Pria aktif melakukan sosialisasi kepada warga.

Selain kelurahan dan kecamatan, dia melakukan sosialisasi langsung di warung-warung. Menurut suami Sholihati itu, awalnya banyak pria yang takut dan enggan mengikuti vasektomi. Saat dia menjelaskan vasektomi di warung, banyak yang menertawakan. “Masak mau sunat lagi?” ucapnya, menirukan ledekan salah seorang pengunjung warung.

Mereka takut luka operasi akan terasa sakit dan lama sembuh. Tentu mereka membayangkan luka seperti saat di khitan. Padahal, imbuh dia, luka bekas vasektomi sangat kecil dan cepat sembuh, tidak seperti luka khitan. Ketika belum berhasil meyakinkan para pria di warung, dia juga datang ke rumah-rumah warga. Selain menemui bapak rumah tangga, dia langsung menemui ibu rumah tangga.

Sang istri awalnya juga takut dan tidak percaya dengan operasi itu. Dia takut kemaluan suaminya akan terluka parah dan tidak bisa berhubungan intim lagi. Suharto lantas berusaha meyakinkan bahwa operasi itu tidak sakit serta lukanya kecil dan cepat sembuh. Walaupun dijelaskan seperti itu, perempuan tersebut belum percaya dan malah meminta diperlihatkan bekas luka vasektomi milik Suharto.

Awalnya Suharto kaget. Tapi demi meyakinkan calon peserta vasektomi dia rela memperlihatkan bekas luka tersebut. “Yo tak dudohno bekas lukane ben percoyo,” ucapnya, sembari terkekeh. Dengan cara seperti itu mereka semakin yakin dengan vasektomi.

Tidak semua orang, terang pria yang juga menjabat Ketua RW 3 Kelurahan Tambak Dono itu yang menjadi target sosialisasi vasektomi. Hanya kalangan tertentu yang menjadi targetnya. YAitu keluarga yang mempunyai banyak anak, tetapi sang ayah tidak memiliki pekerjaan tetap. Akhirnya anak-anaknya kurang terurus. Semakin banyak anak, beban keluarga itu akan semakin berat. Sebab sang ayah tidak punya pekerjaan yang layak. “Orang-orang seperti itu yang menjadi target kami,” terang Suharto.

Keluarga seperti itu cukup banyak di kampungnya. Menurut dia, harus ada solusi untuk menangani persoalan sosial tersebut. KAlau tidak ditangani akan semakin banyak keluarga miskin di wilayahnya. Dengan vasektomi mereka bisa membatasi jumlah anak.

Pecinta sepak bola itu menuturkan, berkat ketekunannya mengajak masyarakat mengikuti vasektomi, pada 2011 Kecamatan Pakal meraih peringkat kedua dalam lomba program vasektomi tingkat Jawa Timur.  Kecamatan Pakal Surabaya hanya kalah oleh Bojonegoro.

Suharto mengatakan, perkenalannya dengan vasektomi bermula pada 2009. Saat itu ada sosialisasi di Kecamatan Pakal. Setelah mengikuti sosialisasi tersebut dia tertarik untuk mencoba vasektomi. Saat itu dia mengikuti operasi vasektomi di BKKBN Jatim karena kecamatan belum mengadakannya. Dia mendapat manfaat cukup banyak dari operasi itu. Salah satunya terkait dengan gairah seksual. Sejak mengikuti vasektomi gairah seksualnya cukup tinggi. “Tidak usah dirangsang, sudah berdiri,” ucapnya, lantas terbahak.

Suharto akhirnya mengajak warga lain yang pernah ikut vasektomi untuk membentuk peguyuban KB Pria dengan nama Siwlan Mesra. Siwalan mempunyai kepanjangan Suami-Istri Wajib Lindungi Anak. Sedangkan Mesra merupakan akronim murah, efektif, sederhana dan aman. Peguyuban itu sekarang memiliki 80 anggota.

Peguyuban Siwalan Mesra tidak hanya melakukan sosialisasi vasektomi. Perkumpulan itu juga mempunyai sejumlah bidang usaha. Antara lain, usaha budi daya lele dan UKM makanan ringan. Usaha tersebut bertujuan memberdayakan anggota peguyuban.

Sumber : Jawa Pos (24/1/2011)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *