Konsolidasi Bidang (KOBID) 2013 BKKBN Untuk Pencapaian Sasaran, Program dan Target MDGs 2015

Konsolidasi Bidang (KOBID) 2013 BKKBN Untuk Pencapaian Sasaran, Program dan Target MDGs 2015

Padang, Sumatera Barat (8/4/13) – Program Kependudukan dan KB saat ini sedang menghadapi tantangan yang berat karena perkembangan program selama sepuluh tahun terakhir menglami stagnan.  Angka fertilitas total (TFR) bergerak disekitar 2,6 anak per wanita usia subur.        Selain itu, prevalensi peserta KB (CPR) bergerak disekitar angka 57 persen. Bahkan untuk angka ASFR kelompok usia 15-19 angkanya naik dari sekitar 35 di SDKI 2007 menjadi 48 tahun di SDKI 2012. Hanya angka unmet-need yang turun dari sekitar 9,1 di SDKI 2007 menjadi sekitar 8,5 persen di SDKI 2012. Kondisi ini akan membawa implikasi terhadap beratnya tantangan pencapaian program di masa mendatang.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyadari bahwa optimalisasi kinerja program sangat diperlukan karena hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan indikator demografis yang menjadi tanggung jawab BKKBN masih jauh dari sasaran yang ditetapkan di RPJMN 2000-2014. Bahkan beberapa indikator demografis tersebut juga merupakan komitmen Pemerintah Indonesia di forum internasional¸ yaitu pencapaian sasaran MDGs 2015.   Kebijakan akselerasi program untuk pencapaian sasaran program dan sasaran MDGs ini dimantapkan dalam rencana aksi program melalui sebuah forum pertemuan Konsultasi Bidang (KOBID) pada tanggal 7-10 April 2013 di Kota Padang, Sumatera Barat. Forum Pertemuan ini berfungsi sebagai forum konsultasi pelaksana teknis program, dalam upaya mewujudkan kebijakan program yang telah diputuskan dalam Rapat Kerja Nasional Program Kependudukan dan KB sebelumnya.

Forum yang bertemakan “Melalui Konsultasi Bidang Pembangunan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Kita Tingkatkan Profesionalisme Dalam Upaya Percepatan Pencapaian Target RPJMN 2012-2014” ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kepastian pencapaian sasaran program tahun 2013 melalui penajaman dan strategi implementasi program melalui penyusunan rencana tindak program yang baik.

Selain itu, forum Kobid dengan peserta sebanyak 317 kepala bidang (pejabat eselon III) dari seluruh Indonesia ini diharapkan dapat memberikan pendalaman wawasan program dalam upaya akselerasi pencapaian sasaran program dan MDGs, diseminasi kebijakan dan strategi operasional program pembangunan kependudukan dan KB tahun 2013, dan menyusun rencana aksi (plan of action) tingkat Provinsi untuk pencapaian KKP tahun 2013.

Pelaksana Tugas Kepala BKKBN, Dr. Sudibyo Alimoeso, MA mengatakan bahwa ada beberapa langkah-langkah akselerasi program kependudukan dan KB dalam upaya meningkatkan kinerja BKKBN untuk pencapaian sasaran, program dan target MDGs tahun 2015, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Pembinaan peserta KB dan peningkatan Advokasi KIE difokuskan pada sasaran kelompok khusus (pasangan usia muda dan memiliki dua anak); PUS dari keluarga miskin, serta pelayanan KB di wilayah sulit dan kumuh melalui kampanye “2 ANAK CUKUP” dan “4 TERLALU”;
  2. Pembinaan peserta KB melalui intensifikasi penggarapan pembangunan KB di 10 provinsi penyangga utama (Sumut, Sumsel, Lampung, Jabar, Banten, DKI Jakarta, Jateng, Jatim, Sulsel dan NTT) dan perhatian 2 (dua) provinsi Papua dan Papua Barat;
  3. Penguatan demand side dan supply side secara seimbang antara lain melalui dukungan serta komitmen Ibu Menteri Kesehatan yang mewajibkan setiap tenaga kesehatan melayani KB, menjamin ketersediaan alokon di setiap fasyankes, penggerakan lini lapangan dan pemberdayaan institusi masyarakat perdesaan/perkotaan;
  4. Pembinaan/pelestarian akseptor KB dan menurunkan angka drop-out (DO), serta meningkatkan penggunaan alat dan obat kontrasepsi jangka panjang (MKJP);
  5. Penguatan mekanisme pendistribusian alokon ke Klinik KB/ Puskesmas secara optimal agar kebutuhan ber-KB terpenuhi secara baik;
  6. Pembinaan remaja melalui Generasi Berencana (genre);
  7. Harmonisasi Program dan Penganggaran bidang KKB dan Kesehatan antara lain penegasan pelayanan KB dalam Jampersal dan SJSN Kesehatan, sharing budget APBN dan APBD;
  8. Penguatan kapasitas kelembagaan Kependudukan dan KB di Kab dan Kota.

“Langkah-langkah akselerasi program tersebut perlu didukung oleh berbagai upaya penajaman strategi penggarapan Program KKB”, lanjut Sudibyo.

Seiring dengn Plt. Kepala BKKBN, Gubernur Sumatera Barat, Prof. DR. Irwan Prayitno, M.Sc mengatakan dalam sambutannya saat pembukaan KOBID di Padang (8/4), bila berbicara masalah Keluarga Berencana di Provinsi Sumatera Barat budayanya sendiri sudah mendukung seperti baranak bak  balam saikua jantan saikua batino, sesuai dengan moto BKKBN dua anak cukup, potensi penggerakan program Kependudukan dan KB di Sumatera Barat tidak terlepas dari kiprah tungku tigo sajarangan tali tigo sapilin yaitu peranan ninik mamak, cerdik pandai dan alim ulama dalam mengajak warga dan masyarakat dalam mensukseskan program KB dan berdasarkan data statistik TFR Sumatera Barat adalah sebesar 2.8 (SDKI 2012) atau diatas rata rata TFR nasional yaitu 2.6 dan sebelumnya TFR Sumatera Barat adalah 3.4 pada SDKI 2007. Sedangkan prevalensi peserta KB aktif (CPR) 56.9 hasil SDKI 2012.

“Demikian pentingnya masalah Kependudukan dan Keluarga Berencana tentu menjadi tantangan tersendiri untuk dapat menyampaikan program ini kepada seluruh masyarakat secara esensial dan komprehensif, khususnya pada masyarakat Sumatera Barat, sehingga program Kependudukan dan Keluarga Berencana ini dipahami secara substansial dan mengakar dalam kehidupan masyarakat yaitu merencanakan kehidupan keluarga dan mempersiapkan keluarga yang berkualitas”, lanjutnya. (HUMAS/AH/ES)

Siaran Pers BKKBN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *