Menko Kesra : Program KB itu Penting

Menko Kesra : Program KB itu Penting

“Program KB pada dasarnya bertujuan untuk membantu pengendalian penduduk. Penduduk dunia saat ini sudah 7,1 Milyar, untuk menjadi 8 Milyar tidak perlu waktu 20 tahun, dan sebelum tahun 2040 bisa mencapai 9 Milyar. Semua penduduk tersebut perlu makan, energi, sandang, perumahan, dan banyak kebutuhan lainnya. Kesemuanya itu bisa menjadi malapetaka bila tidak disiapkan dengan baik. Oleh karena itu, perlu revitalisasi program KB untuk mendukung pengendalian jumlah penduduk.”

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra), HR. Agung Laksono pada rangkaian kegiatan Kunjungan Kerja Safari Ramadhan 1433 H/ Tahun 2012 di Pendopo Kabupaten Situbondo, Sabtu (4/08) kemarin.

Dalam kegiatan ini, Menko Kesra turut didampingi Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN); Dr. dr. Sugiri Syarief, MPA, Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN; Dr. Sudibyo Alimoeso, MA dan Deputi IV Menko Kesra Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama; Agus Sutono.

Agung menjelaskan, terlaksananya program Keluarga Berencana memerlukan dukungan terutama dari Pemerintah Daerah. Menurutnya, hingga saat ini masih ada beberapa pemerintah daerah yang menggabungkan program pengendalian penduduk atau KB dengan dinas-dinas tertentu. “Bahkan ada yang digabungkan dengan Dinas PU, tentu kurang cocok,” imbuh Agung.

“Jadi, perlu kita sadari bersama pentingnya program Keluarga Berencana (KB). Jangan dianggap sebagai embel-embel, tetapi harus dianggap sebagai sesuatu yang penting. Karena ini semua akan menjadi aset di masa mendatang,” tegasnya.

Menko Kesra juga menyatakan setuju dengan slogan KB “dua anak cukup”. “Kalau sekarang diganti dua anak lebih baik, itu kurang greget. Jadi lebih baik kembali ke slogan awal. Kan tidak melanggar HAM karena tidak ada sanksinya,” tutur Agung Laksono.

Sementara itu, menanggapi masalah tingginya kematian ibu di Situbondo yang pada bulan Juli 2012 mencapai angka 10 orang, walaupun telah didukung program GSI (Gerakan Sayang Ibu) dan JAMPERSAL (Jaminan Persalinan), Sugiri menyampaikan bahwa saat ini BKKBN sedang giat mengkampanyekan agar remaja tidak menikah muda, salah satu tujuannya adalah  mencegah meningkatnya angka kematian ibu. “Makin muda wanita menikah, resiko kematian ibu menjadi lebih tinggi. Apabila wanita menikah di bawah 20 tahun dan hamil, resiko ibu meninggal saat melahirkan dua kali lebih besar dibandingkan wanita yang hamil dan melahirkan di antara usia 20 hingga 30 tahun,” ungkapnya.

“Oleh karena itu, tolong bapak dan ibu jangan terburu – buru menikahkan anak – anaknya, terutama di bawah umur 20.” pesan Sugiri.

“Jadi, tolong didata meninggalnya karena apa. Karena pendarahan, atau karena terlambat penanganannya ke rumah sakit? Data ini kemudian akan kita gunakan untuk membantu mencegah kematian ibu karena persalinan,” lanjut Sugiri.

Pada kesempatan itu, Sugiri juga menyampaikan apresiasi kepada Kabupaten Situbondo yang mendukung pelaksanaan vasektomi. Situbondo adalah kabupaten di Indonesia yang paling banyak peserta vasektomi-nya dan pernah meraih MURI atas prestasi terbanyak peserta vasektomi.

“Situbondo ini kabupaten paling hebat. Karena dari sinilah muncul fatwa vasektomi halal. Kami berterimakasih sekali kepada para ulama dan seluruh masyarakat Situbondo yang telah memulai dukungan pada vasektomi, sehingga Alhamdulillah pada tanggal 29 Juni lalu MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat menetapkan vasektomi halal dengan syarat-syarat tertentu. Dan itu adalah hasil perjuangan yang dimulai dari Situbondo ini,” pungkasnya.

Dalam rangkaian kegiatan safari ramadhan ini diserahkan bantuan finansial dari Menko Kesra antara lain, bantuan untuk siswa miskin (BSM) kepada siswa Madrasah Swasta di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Situbondo, bantuan pendidikan dasar, bantuan pendidikan menengah bantuan sosial pendidikan kecakapan hidup, bantuan langsung masyarakat (BLM) program PNPM Mandiri pendesaan di 13 Kecamatan, dan PNPM Mandiri perkotaan di empat kecamatan. Menko Kesra juga menyerahkan bantuan dari Kementerian Kesehatan. Selain bantuan finansial, ada satu paket buku perpustakaan desa, satu paket buku perpustakaan taman bacaan masyarakat, alat olah raga, topi, kaos dan buku pariwisata.

Sementara itu, BKKBN memberikan bantuan kepada Kabupaten Jember, Banyuwangi dan Situbondo masing – masing berupa bantuan non fisik, dan bantuan fisik yang terdiri dari alat kesehatan antara lain obgyn bed, IUD KIT serta alat teknologi tepat guna (ATTG) seperti food sealer dan mesin sablon sekurangnya senilai 2 Miliar per kabupaten.

Sebelum mengunjungi Situbondo, Menko Kesra dan Kepala BKKBN juga melaksanakan dialog bersama masyarakat Jember dan Banyuwangi. (Humas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *