Menteri Kesehatan RI : Melahirkan terlalu muda Salah Satu Penyebab Tingginya Angka Kematian Ibu

Menteri Kesehatan RI : Melahirkan terlalu muda Salah Satu Penyebab Tingginya Angka Kematian Ibu

Menteri Kesehatan RI dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH menekankan kembali masih tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. Banyaknya persalinan dilakukan di rumah dan usia ibu melahirkan terlalu muda menjadi penyebab terbesarnya, hal ini dikatakan pada peserta Dialog Interaktif “Keluarga Sehat Idamanku” di Ballroom Hotel JW Mariott Surabaya, Jumat (13/6).

 

Untuk itu, katanya, pemerintah terus menekankan angka AKI terus menurun. Dengan cara menyelamatkan dan mencegah kematian ibu hamil. “Saya berpesan pada jajaran kesehatan, kalau bisa jangan ada satu ibu hamil yang tewas karena sebenarnya bisa dicegah. Ibu hamil dan bersalin bisa dicegah kematiannya,” kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi.

Nafsiah menambahkan, terkait pesan tersebut, ada tiga poin Millennium Development Goals (MDGs) yang harus diperhatikan konsistensi pengaplikasiannya. Di antaranya mengerahkan seluruh kekuatan pemerintah dunia, pusat, dan daerah, termasuk swasta untuk komitmen menurunkan angka kematian pada ibu hamil. “Kita sudah satu dekade menambah fasilitas kesehatan untuk ibu dan sebelum hamil,” bebernya.

Program cukup dua anak juga bisa menekan angka kematian ibu hamil. Kemudian, ia menimbau wanita jangan terlalu muda atau tua untuk melahirkan. “Jangan terlalu muda melahirkan, seperti usia di bawah 20 tahun, dan jangan terlalu tua. Juga, jangan terlalu rapat (jarak usia antara anak satu dengan lainnya). Jelas, kalau terlalu banyak juga berisiko,” simpulnya,

 

            Sementara itu, Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Jatim Ny. Dra. Hj. Nina Soekarwo, MSi sharing kiat kader PKK Jatim dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI). TP PKK Jatim terus berfokus untuk menangani masalah-masalah yang ada di hulu dan mensinergikan 10 program pokok PKK dalam rangka pencapaian MDGs seperti penurunan AKI tersebut.

“Kader PKK yang ada di grass root telah membantu Pemprov Jatim untuk menekan angka kematian ibu melahirkan. Tren turun terus menerus dengan adanya keaktifan kader PKK,” ujarnya.

Ia mengatakan, salah satu yang dilakukan TP PKK Prov. Jatim yakni kader PKK melakukan pendampingan terhadap ibu-ibu hamil yang berisiko tinggi. Dalam melakukan pendampingan terdapat buku pedoman untuk mendampingi dari masa kehamilan hingga masa nifas.

“Kader PKK sangat ikhlas mendampingi dari tingkat provinsi hingga dasawisma. PKK Jatim luar biasa, bekerja keras, cerdas, dan ikhlas. Kader itu mendampingi sejak hamil, kemudian melahirkan, memberikan pembekalan bagaimana memberikan asi eksklusif, inisasi menyusui dini, hingga masa nifas,” tuturnya.

Lebih lanjut disampaikannya, keaktifan PKK Jatim untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan telah dilakukan di 8 kabupaten/kota, ditambah  8 kabupaten/kota. Rata-rata setiap kabupaten/kota 50 kader mendampingi 50 ibu melahirkan. Tahun 2013, sejumlah 400 ibu melahirkan di 8 kabupaten/kota yang didampingi kader PKK. Kader PKK Jatim sangat ikhlas mendampingi bahkan daerah mengembangkan hingga jumlah kader yang mendampingi mencapai 740 orang untuk mendampingi 740 ibu-ibu hamil yang berisiko tinggi.

“Dari 740 ibu yang didampingi para kader PKK Jatim sudah melahirkan dengan selamat semua. Inilah tugas kita, ibu-ibu PKK mendampingi ibu sejak hamil hingga masa nifas, didampingi terus-menerus. Ini dinilai sangat efektif terhadap pendampingan pada ibu-ibu yang melahirkan, khusus ibu yang hamil dengan risiko tinggi,” jelas Bude Karwo sapaan  akrabnya.

Langkah-langkah yang telah dilakukan TP PKK Prov Jatim tersebut telah mendapatkan hasil. AKI di Jatim terus mengalami penurunan meskipun AKI nasional mengalami siklus naik turun. Tahun 2010 AKI di Jatim sebesar 104 per 100 ribu kelahiran hidup dan tahun 2011 101 per 100 ribu. Sementara itu, tahun 2012 turun lagi menjadi 97,47 per 100 ribu turun lagi menjadi 97,39 per 100 ribu kelahiran hidup di tahun 2013. Bahkan data terbaru, AKI Jatim mencapai 97,39 per 100 ribu kelahiran hidup.

Atas kerja kerasnya dalam menurunkan AKI sehingga Ketua TP PKK Provinsi Jatim memperoleh Kartini Award dari Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) pada beberapa waktu lalu di Jakarta. Penghargaan itu ditujukan Bude Karwo kepada seluruh kader PKK Jatim yang telah berpartisipasi atas penurunan AKI di Jatim.

Menanggapi sharing disampaikan Bude Karwo, Ketua TP PKK Pusat Ny. Hj. Vita Gamawan Fauzi mengapresiasi kepada TP PKK kabupaten/kota di Jatim yang telah menjalankan 10 program pokok PKK sehingga TP PKK Provinsi Jatim memperoleh juara umum pada Peringatan BBGRM dan HKG PKK. “TP PKK dari 38 kabupaten/kota di Jatim telah melaksanakan tugasnya dalam menjalankan 10 program pokok PKK,” ujarnya.

Ia juga mengajak para kader PKK seluruh Indonesia melalui TP PKK baik pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan, hingga dasawisma untuk bersama-sama mencari solusi untuk membantu menurunkan AKI dan Angka Kematian Bayi (AKB). .

Dialog interaktif tersebut merupakan rangkaian kegiatan Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXI Tahun 2014. Peringatan Harganas XXI Tahun 2014 bertema “Melalui Hari Keluarga Kita Tingkatkan Kualitas Keluaga dalam Mewujudkan Indonesia Sejahtera”.

Dalam kegiatan itu, dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman di Bidang kependudukan, kesehatan reproduksi, dan keluarga berencana antara Kepala BKKBN Pusat Prof. Fasli Jalal, MD, PhD dengan GOPFP Rep. Socialist Vietnam Dr. Duong Quoc Trong.

Menteri Kesehatan RI menyerahkan Media Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Kementerian Kesehatan RI dan Buku Menjadi Orang Tua Hebat (BKKBN) kepada Ketua Umum TP PKK Pusat. Kemudian Ketua Umum TP PKK Pusat menyerahkan kepada Ketua TP PKK Jawa Timur Bude Karwo, Istri Wagub NTB, Ketua TP PKK Kota Bandung.

Selain itu, dilakukan penandatangan Deklarasi Gubernur, Bupati/Walikota Tentang Percepatan Pembangunan Kesehatan di Indonesia Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara H.M. Saleh Lasata, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Dr. H. Akhmad Sukardi, MM, Bupati Tulang Bawang Ir. Hanan A Rozak, Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan dr. H. Ahmad, TP PKK Sulawesi Barat, Tim Penggerak NTT, serta Ketua Umum TP PKK Pusat. (AT).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *