Menyambut Kemenangan Keluarga Oleh Haryono Suyono

Menyambut Kemenangan Keluarga Oleh Haryono Suyono

(Koran Pelita).
Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1432 H. Peristiwa ini merupakan kesempatan emas untuk saling maaf-memaafkan. Apabila ibadah kita diterima dan permohonan ampun kita dikabulkan oleh Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, kita akan menjadi manusia yang bersih dan suci kembali. Kita bisa mulai hidup dengan lembaran baru penuh amal ibadah melalui kegiatan belajar dan bekerja keras. Oleh karena itu, kita harus berani menyegarkan iman, tawakal dan prihatin disertai kegiatan belajar tanpa henti, melatih diri dengan berbagai ketrampilan, membangun silaturahmi menciptakan harmoni sesama keluarga dan bekerja keras membangun keluarga sejahtera yang diridhoi-Nya.

Dalam suasana tingkat kemiskinan yang masih tinggi, tingkat pendidikan masih rendah, dan akses terhadap pekerjaan untuk bisa menopang kehidupan lebih sejahtera belum merata, tidak ada pilihan lain bagi semua penduduk untuk bersatu mengembangkan gagasan-gagasan yang mudah dikerjakan. Dengan demikian, setiap orang di mana pun mereka berada, bisa berpartisipasi secara aktif. Dalam kesempatan Idul Fitri tahun ini, jumlah posdaya makin memadai. Kita bisa melihat suasana Idul Fitri di mana sebagian keluarga anggota posdaya mulai mengalami perubahan yang menarik.

Salah satu contoh terjadi di Pacitan, Jatim di mana keluarga anggota posdaya bersama Bupati setempat menjadi tuan rumah dari keluarga-keluarga yang pulang mudik. Keluarga Pacitan di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya serta kota-kota lain berkumpul bersama di Pendopo Kabupaten untuk bersilaturahmi. Mereka berbagi ceria dan suka-cita karena bersyukur bisa bersama pulang Mudik Merah Putih. Mereka membagikan benderadan oleh-oleh lainnya sebagai simbol kebersamaan dan solidaritas. Mereka membawa bendera pusaka karena mereka tetap ingin bernaung di bawah Sang Saka Merah Putih sebagai simbol kebesaran bangsa Indonesia.

Sebaliknya tuan rumah yang terdiri-dari keluarga anggota posdaya dan koperasi-koperasi yang ada di Pacitan, secara sengaja menyediakan produk-produk lokal yang dapat dibeli dengan “harga pabrik” sebagai oleh-oleh bagi keluarga yang tidak sempat pulang mudik. Oleh-oleh khas “tanah tumpah darah” tersebut dipastikan akan menjadi obat kangen dan kenangan yang tiada taranya dalam suasana Lebaran yang suci.

Contoh lain terjadi di Hong Kong, yang baru saja kita kunjungi. Para nakerwan (tenaga kerja wanita) yang sederhana berbondong-bondong datang ke kantor Dompet Duafa untuk membayar zakat dan sumbangan lainnya. Mereka tahu bahwa sebagian akan pulang mengambil cuti Lebaran, dan sebagian lagi tetap tinggal dalam lingkungan keluarga yang tidak ada acara mudik Lebaran karena menganut agama yang berbeda. Mereka ini harus bekerja ekstra keras karena sebagian pembantu majikannya, juga sebagian besar berasal dari Indonesia, pulang mudik. Mereka terpaksa terkena getah menggantikan teman-teman yang pulang mudik.

Karena itu, nakerwan yang berbondong-bondong datang ke kantor Dompet Duafa sebagian mendaftar sebagai relawan untuk bersama-sama mengembangkan acara Lebaran bersama. Dalam acara silaturahmi itu akan disajikan acara menarik berupa hiburan dan berbagai pemberian hadiah atas kegiatan sosial dan keagamaan selama masa bulan puasa yang penuh berkah.

Juga perlu dicatat, berbagai acara itu diselenggarakan secara gotong royong oleh relawan yang berasal dari nakerwan yang umumnya berpendidikan rendah dan sering disebutnya “babu” biarpun pemerintah dan kita selalu memberi nama mentereng sebagai TKW, TKI, pahlawan devisa atau nakerwan. Mereka toh tidak malu-malu selalu menyatakan dengan senyum bahwa pekerjaan sehari-harinya sebagai “babu”.

Barangkali kita perlu belajar dari pemerintah dan organisasi kemasyarakatan di HongKong, yang biasa mempersiapkan diri menghadapi tantangan hidup dan menyelesaikan segala persoalan dengan tekun, cermat, terarah secara efisien dan efektif. Kalau kita setiap tahun merayakan Idul Fitri sebagai hasil membersihkan diri, penduduk Hong Kong memulai hidup dengan membangun budaya bersih secara luar biasa. Anggapan bahwa orang China jorok dan kotor tidak berlaku bagi penduduk Hong Kong. Ke mana pun kita pergi, kita melihat daerah yang bersih dengan taman-taman indah hingga memberikan rasa nyaman kepada semua kalangan. Bersih itu bukan sekedar jiwa dan raga, tetapi terwujud dalam wahana dan suasana kerja yang disiapkan melalui pelatihan yang matang.

Di Hong Kong terdapat beberapa lembaga pelatihan pekerja, termasuk pelatihan untuk pembantu rumah tangga yang bahan-bahan pelajarannya disampaikan dalam bahasaIndonesia secara fasih. Kalau majikan mendapatkan pekerja Indonesia yang baik tetapi tidak atau belum mahir mengoperasikan berbagai peralatan modern, atau petugas itu belum paham bagaimana mencegah berbagai kemungkinan perumahan yang berbeda, maka nakerwan dapat dikirim ke pusat pelatihan untuk mendapatkan kemahiran.

Pemerintah Hong Kong juga mendukung pengembangan relawan dalam rangka pembentukan relawan sosial nasional. Termasuk, aktivitas untuk mencegah kemungkinan terjadinya bencana dalam lingkungan rumah tangga atau bencana alam lainnya yang lebih ganas. Pengembangan relawan dalam safe community ini memberi kesempatan kepada siapa pun untuk bergabung dengan cita-cita berbagi kewaspadaan dan kepedulian agar masyarakat selalu waspada kecelakaan.

Hari Raya Idul Fitri memberi kesempatan kepada kita untuk membangun budaya baru, bersih lahir batin, bersih membaca keadaan dan membangun keluarga yang iman dan taqwa kepadaNya. Juga, membangun kepedulian antar-sesama dengan persiapan diri yang lebih baik agar selalu berada dalam suasana kebahagiaan. Selamat Hari Raya Idul Fitri, maaf lahir dan batin. ***

Penulis adalah Mantan Menko Kesra dan Taskin.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *