Stok Alat KB Berlimpah, Aksesnya Saja yang Susah

Stok Alat KB Berlimpah, Aksesnya Saja yang Susah

Medan, Salah satu faktor yang menghambat suksesnya program Keluarga Berencana (KB) adalah susahnya mendapat alat kotrasepsi di wilayah tertentu. BKKBN menegaskan, stok alat kontrasepsi biasanya berlimpah hanya distribusinya saja yang lemah.

Distribusi yang lemah menyebabkan para calon peserta KB yang kesulitan mengakses alat-alat kontrasepsi, terutama di daerah-daerah terpencil. Akhirnya banyak pasangan gagal mengikuti program KB hanya karena alatnya tidak tersedia saat dibutuhkan.

“Solusinya adalah membangun akses. Caranya dengan melibatkan mitra-mitra yang punya akses,” kata dr Muhammad Tri Tjahjadi, MPH, Direktur Bina Kesertaan KB Jalur Swasta BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana dalam Workshop Jaminan Ketersediaan Kontrasepsi (JKK) di Medan, Senin (4/6/2012).

Salah satu mitra BKKBN yang bisa dilibatkan adalah apotek-apotek, yang memang masih jarang ditemukan di daerah. Uang bukan masalah bagi sebagian orang di daerah, banyak juga yang kaya tapi sulit mengakses alat kontrasepsi karena tidak ada apotek yang menjualnya.

Cara melibatkan apotek dalam upaya mewujudkan program Jaminan Ketersediaan Kontrasepsi (JKK) adalah dengan memberi kemudahan bagi yang bersedia membuka apotek di daerah. Misalnya dengan mengurangi pajaknya, sebab bagaimanapun keberadaannya telah mempermudah program KB pemerintah.

Menurut dr Tri, cara ini sangat memudahkan pemerintah karena tidak perlu membangun gudang stok di daerah. Apalagi risiko menyimpan alat kontrasepsi di gudang juga cukup tinggi, karena bisa kadaluarsa atau rusak jika terlalu lama atau tidak terkelola dengan baik.

“Ambil contoh kondom, waktu sampai ke konsumen kualitasnya sudah tidak optimal lagi hanya karena penyimpanannya di bawah lampu neon misalnya. Hal-hal teknis seperti ini kadang makin mempersulit akses terhadap alat kontrasepsi,” kata Sugiri Syarief, Kepala BKKBN saat membuka workshop.

Dalam sambutannya, Sugiri juga menekankan bahwa stok alat dan obat kontrasepsi yang ada di lapangan harus didata dan dilaporkan secara rutin. Rasio stok harus dijaga agar selalu tersedia kebutuhan untuk minimal 3 bulan dan maksimal 24 bulan supaya tidak kedaluarsa.

Sumber : DetikHealth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *