Temu Keluarga, Nonton Wayang Kulit

Temu Keluarga, Nonton Wayang Kulit

Dalam rangkaian Peringatan Hari Keluarga ke XIX Tahun 2012 Tingkat Jawa Timur, baru – baru ini Perwakilan BKKBN Jatim mengadakan acara Temu Keluarga yang dikemas dalam kegiatan nonton bareng pagelaran wayang kulit di halaman kantor Perwakilan BKKBN Jatim, Jl. Airlangga 31-33 Surabaya (14/7/2012).

Sekretaris Badan Perwakilan BKKBN Jatim Drs. Agus Putro Proklamasi, MM yang pada saat itu membacakan laporan Kepala BKKBN Provinsi Jawa Timur, Djuwartini, SKM, MM selaku Ketua Panitia, menyampaikan, kegiatan Temu Keluarga ini adalah salah satu wahana untuk meningkatkan pembinaan kepada keluarga agar setiap keluarga mampu melaksanakan delapan fungsi keluarganya. Juga sekaligus sebagai ajang silaturahmi bagi seluruh pengelola program serta berbagai pihak yang ikut berjasa mendukung pelaksanaan program Kependudukan dan KB di Jatim. Hadir dalam temu keluarga ini Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi BKKBN, Drs. Hardiyanto, didampingi Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Djuwartini, SKM MM, mitra kerja, Juang Kencana, masyarakat umum dan karyawan Perwakilan BKKBN Provinsi Jatim.

Dalam sambutannya, Deputi ADPIN Drs. Hardiyanto mengatakan pentingnya momentum Hari Keluarga. Melalui peringatan Hari Keluarga, setiap keluarga diajak untuk mengingat kembali bahwa keluarga adalah wadah yang utama dan pertama untuk membentuk kepribadian bangsa. Anak mulai dalam kandungan hingga dewasa dididik dalam keluarga. Kegagalan dalam mendidik anak artinya kegagalan keluarga itu dalam berpartisipasi menciptakan bangsa yang kuat. Keluarga yang mampu menjalankan delapan fungsi keluarga akan menjadi keluarga yang kuat. Bila keluarga kuat, bangsa pun akan menjadi kuat.

“Kalau sekarang Perwakilan BKKBN Jatim menggelar wayang kulit, ini sangat bagus, artinya ikut menyemaikan budaya yang merupakan salah satu fungsi keluarga. Disisi lain ikut melestarikan warisan budaya leluhur yang adiluhung,” ujar Drs. Hardiyanto.

Menurut Hardiyanto, dalam salah satu kisah wayang terdapat simbol yang bisa diteladani. Yakni digambarkan bagaimana Kurawa yang merupakan keluarga besar seringkali berselisih dan Pandawa yang lebih sedikit jumlah saudaranya, bisa hidup tentram.

Malam itu dalang Ki Sun Gondrong yang diiringi sembilan sinden membawakan lakon Lahirnya Wisanggeni dengan apik. Lakon ini berkisah tentang Dewi Drestanala putri dari Betara Brama, hamil tua akibat hubungannya dengan Raden Janaka. Betara Brama dengan rasa berat melarang hubungan putrinya dengan Janaka diteruskan, mengingat Dewi Drestanala adalah seorang Dewi sedang Arjuna hanya manusia biasa. Sementara itu Dewa Srani anak dari Bethari Durga, menginginkan Dewi Drestanala menjadi istrinya, namun ditolak. Mengetahui lamaran anaknya ditolak, Betari Durga marah dan menyiksa Dewi Drestanala yang mengakibatkan anak dalam kandungannya lahir sebelum waktunya. Bayi Dewi Drestanala pun oleh Betari Durga akan dibinasakan dengan diceburkan ke kawah Candradimuka. Anehnya anak tersebut bukannya tewas, malah dengan serta merta menjadi besar dan dewasa. Karena itu sang bocah tersebut kemudian dinamai Wisanggeni (bisa dari api) yang artinya anak yang bisa menjadi besar karena dimasukkan ke dalam kawah gunung berapi atau geni (api).

Wisanggeni dewasa pun murka atas perbuatan Betari Durga karena telah menyiksa diri dan ibunya. Wisanggeni mencari semua orang yang membuat keluarganya menderita. Dan atas nasehat Semar, akhirnya Wisanggeni bisa menemukan ayahnya yaitu Raden Arjuna. (AT/Humas Perwakilan BKKBN Jatim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *