Waspadai Faktor Penghambat Program KKB

Waspadai Faktor Penghambat Program KKB

 

“Permasalahan Kependudukan dan Keluarga Berencana meskipun semakin berat harus tetap kita hadapi. Sesuai dengan arahan Presiden, perlu adanya revitalisasi kinerja. PKK membantu program KB tidak dengan tekanan tetapi dengan hati. Walau kini program KB di Jawa Timur relatif sudah berhasil dengan  TFR 1,64 dan LPP 0,49 dan  peserta KB aktif sebanyak 73 persen, kita harus tetap waspada jangan sampai angka tersebut naik lagi.”

Demikian dikatakan Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur Dra. Hj. Nina Soekarwo, M.Si dalam sambutan pembukaan Rakornis Kemitraan BKKBN Jatim dengan  PKK dan SKPD KB kota/kabupaten se Jatim di gedung Lestari BKKBN Jatim (18/4) usai meresmikan Pusyan GATRA. Hadir dalam acara ini Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Dr. Sudibyo Alimoeso, MA, Kepala Perwakilan BKKBN Jatim Djuwartini, SKM, MM dan para pengurus Tim Penggerak PKK se Jawa Timur.

“Untuk itu faktor-faktor yang bisa menyebabkan naiknya angka pecapaian harus kita dalami dan perhatikan dengan sungguh-sungguh” kata Bude Karwo,  panggilan akrab Nina Soekarwo, di depan para peserta Rakornis yang mengetengahkan tema “Melalui Komitmen Bersama Mitra Kita Tingkatkan Kinerja dan Partisipasi Masyarakat Untuk Mempercepat Pencapaian Sasaran Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana Tahun 2015”.

Dalam kesempatan itu Bude Karwo menyoroti permasalahan remaja, dan meminta kepada para orang tua untuk memberikan perhatian ekstra kepada para putra-putrinya. Mengingat jumlah remaja  di  Jawa Timur ada 17,5 persen dari jumlah penduduk di Jawa Timur.

“Masalah globalisasi memang tidak bisa dihindari, tapi jangan sampai anak-anak kita sampai terjerumus kedalam masalah seks pranikah, narkoba dan HIV Aids. Masa Remaja sangat menentukan kehidupan selanjutnya”.

Sementara itu Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Dr. Sudibyo Alimoeso, MA, mengingatkan bahwa jumlah penduduk dunia sudah mencapai 7 milyar, dan pertambahan satu milyar hanya membutuhkan waktu 12 tahun, yang artinya dikemudian hari pertambahan untuk mencapai satu milyar lagi waktu yang dibutuhkan makin pendek. Semakin banyak penduduk, maka akan timbul banyak persoalan, seperti halnya masalah subsidi, kebutuhan hidup, kualitas sumber daya manusia dan lain sebagainya.

“Kita harus prihatin, karena Indeks Pembangunan Manusia Indonesia makin menurun di antara Negara di dunia, sekarang Indonesia ada di posisi 124 dari 188 negara” kata Sudibyo.

Untuk mengantisipasi ledakan penduduk, menurutnya harus dilakukan optimalisasi dan konsistensi kinerja dari semua pihak. Sudibyo mencotohkan negara China yang penduduknya sudah mencapai 1,3 milyar jiwa. Di China setiap pasangan hanya boleh mempunyai satu anak. China juga mempunyai pusat pelayanan keluarga seperti Pusyangatra. Pusyangatra di China dibuat tidak tanggung-tanggung, hanya untuk keperluan peralatannya saja untuk satu pusat pelayanan bisa mencapai Rp. 5 milyar, belum termasuk gedung bertingkat yang digunakan.

Sudibyo juga memperhatinkan masalah remaja, kasus pra nikah di Indonesia sudah cukup tinggi. Tidak saja di Indonesia , tapi juga di dunia, sampai-sampai PBB menyarankan agar remaja juga dilayani kontrasepsi. “Saya harap Pusyan GATRA Jawa Timur ini bisa dicontoh provinsi lain, agar bisa secepatnya membantu masyarakat mengatasi berbagai permasalahan  keluarga” harap Deputi Bidang KSPK tersebut. (AT/Humas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *